Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Paskah: Pengorbanan Terbesar


PENGORBANAN TERBESAR
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Filipi 2:8

Berbicara tentang paskah (pass over), maka pemikiran kita akan diproyeksikan kembali kepada sejarah paskah, saat bangsa Israel akan keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham sebagai miliki pusaka mereka. Dimana ketika Tuhan hendak menghukum bangsa Mesir dengan ‘membinasakan’ semua anak sulung yang ada di kota tersebut (Kel 11:4-6; 12:12), pada saat itu Tuhan melewatkan (pass over) setiap rumah orang Israel (Keluaran 12:13). Kenapa Tuhan melewatkan rumah bangsa Israel? Karena setiap ambang pintu dan ambang batas rumah dari bangsa itu diberi tanda dari darah anak domba yang dikorbankan (Kel 12: 4,13). Tuhan meluputkan bangsa Israel dari malapetaka yang akan terjadi karena ada pengorbanan. Dan paskah ini menjadi peringatan bagi bangsa Israel secara turun temurun sebagai hari raya untuk Tuhan (Kel 12:14). Menilik kembali apa yang dicatat di dalam kebenaran Firman Tuhan di kemudian hari setelah bangsa itu keluar dari tanah Mesir, maka kita akan menemukan bahwa pengorbanan binatang merupakan sesuatu yang lazim dilakukan sebagai korban penghapus dosa, korban pendamaian dan persembahan kepada Tuhan. Binatang yang paling lazim untuk dipersembahkan adalah domba.
Beribu-ribu tahun kemudian, pengorbanan inilah juga yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika Dia merendahkan diri-Nya untuk turun ke dunia bahkan sampai mati di kayu salib untuk mengampuni manusia yang berdosa dan memperdamaikan manusia dengan Bapa. Sebenarnya bukan Tuhan tidak sanggup menyelamatkan manusia tanpa harus turun ke dalam dunia. Tuhan sanggup berkata kepada seseorang: “bertobatlah.. !” atau kepada si Rinto: “bertobatlah, jika tidak kamu akan mati” maka saya yakin orang tersebut akan bertobat. Tapi, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia, Dia setia kepada apa yang sudah pernah dikatakan-Nya bahwa manusia boleh mengalami pendamaian lewat pengorbanan. Bagaimana pengorbanan Tuhan Yesus dan apa dampaknya bagi kita?

1.      Yesus Datang Kepada Umat Kepunyaan-Nya
Di dalam Yohanes 1: 3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa segala yang ada di bumi baik tumbuhan, hewan melata, yang berkeriapan di air, yang berkeriapan di udara dan binatang buas serta manusia adalah diciptakan oleh Tuhan Yesus. Ayat ini juga menyangkal pengajaran yang berkembang yang mengkotak-kotakkan tugas Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Dengan ayat tersebut, pengajaran yang mengatakan bahwa penciptaan adalah tugas Allah Bapa adalah pernyataan yang keliru dan tidak berdasar kepada firman Tuhan. Jadi sekali lagi ditegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di bawah langit di atas bumi semuanya terjadi dengan peran Allah Tri Tunggal, di dalamnya termasuk Tuhan Yesus. Tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa oleh-Nya. Hal ini berarti, jika hidup saudara dan saya terpelihara saat ini juga karena Tuhan Yesus, kalau saudara boleh menikmati apa yang ada saat ini, pun karena Tuhan Yesus.

2.      Yesus Ditolak Umat Kepunyaan-Nya
Di atas sudah dijelaskan bahwa segala sesuatu yang ada terjadi oleh karena kehendak-Nya, tapi apa yang terjadi ketika Tuhan Yesus datang kepada orang kepunyaan-Nya, manusia yang sudah diciptakan-Nya, dipelihara-Nya itu? Yohanes 1:11 “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”. Milik kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya bahkan menolak. Hal ini dapat kita lihat mulai dari kelahiran Tuhan Yesus, Dia lahir di kandang domba di kota Betlehem (Mikha 5:1-2; Matius 2:1; Lukas 2:4-7; Matius 2:4-8) ……karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Lukas 2:7), kemudian Yesus di tolak di Nazaret (Lukas 4:16-30), bahkan sampai di salibkan oleh umat pilihan-Nya sendiri (Lukas 23:33-43; Mat 27:33-44; Mr 15:22-32; Yoh 19:17-24).
Saya membayangkan betapa ‘sedihnya’ hati Tuhan Yesus saat itu, ketika Dia datang kepada umat kepunyaan-Nya, umat pilihan-Nya, umat yang telah dituntun-Nya tapi Dia di tolak. Saya punya ilustrasi seperti ini:
Misalkan saja hal ini terjadi dengan saudara. Anak yang sudah saudara lahirkan, ketika dia kecil saudara merawat dia dengan penuh kasih sayang, ketika sakit saudara bawa dia berobat bahkan tidak jarang terganggu tidur ketika dia rewel pada malam hari, kemudian si anak ini bertambah besar. Ketika sudah usia sekolah saudara menyekolahkan anak ini di sekolah yang terbaik dengan harapan kelak bisa memperoleh masa depan yang lebih baik dibandingkan saudara saat ini, sebagaimana harapan dan keinginan orang tua pada umumnya kepada anaknya. Lalu anak itupun beranjak dewasa dengan kasih sayang dari saudara. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Perguruan Tinggi terbaik, anak inipun mendapatkan pekerjaan yang baik. Suatu hari dia kembali ke kampung halamannya yaitu rumah anda. Pada suatu petang yang penat anda pulang dari tempat kerjaan lalu mengetuk pintu, ketika anak anda membukakan pintu lalu berkata:”Hei… kamu siapa? Saya tidak mengenal kamu, pergi…!!!”. Sebagai orang tua yang sudah berkorban demikian besarnya kepada anak anda, kira-kira apa yang akan anda lakukan? Mungkin saudara akan berkata: “Dasar anak durhaka…” bahkan mungkin memukul anak tersebut dengan apa saja yang bisa dijangkau oleh tangan saudara.
Sangat sedih bukan? Saya bisa merasakan itu karena saya juga saat ini sedang mengasuh anak saya yang masih kecil, sehingga saya dapat merasakan bagaimana susahnya mendidik anak saya. Hal tersebutlah yang terjadi dengan Tuhan Yesus, ketika Dia datang kepada umat ciptaan-Nya, tapi manusia menolak Dia dengan berkata: “Aku tidak mengenal kamu”. Seharusnya manusia yang sudah menolak Dia akan dihukum dan dibinasakan, tapi Tuhan Yesus malah menggantikan hukuman yang seharusnya ditanggung oleh manusia (II Korintus 5:21)

3.      Yesus Disalibkan
Pengorbanan terbesar yang Tuhan Yesus lakukan adalah ketika Dia rela disalibkan untuk menebusa dosa pelanggaran manusia. Dalam hal inilah hakekat paskah sesungguhnya, yaitu ketika Tuhan Yesus merendahkan diri sampai mati dikayu salib untuk menggantikan manusia yang seharusnya dihukum (II Korintus 5:21). Yesus disalibkan bukan karena kesalahan-Nya tetapi karena pelanggaran-pelanggaran kita (Yesaya 53:4-5). Harta termahal yang dimiliki oleh Bapa diberikan kepada manusia sebagai korban penebusan dan korban pendamaian, sehingga setiap orang yang percaya kepadanya ditebus dan diperdamaikan dengan Allah (Yohanes 3:16).
Saya akan memberikan sebuah ilustrasi yang bisa menggambarkan pengorbanan dan hati Bapa saat melihat Anak yang dikasihi-Nya taat sampai mati di kayu salib, walaupun ilustrasi berikut tidak dapat menggambarkan dengan tepat.
Seorang bapak setengah baya bekerja pada sebuah perusahaan kereta api, dan tugas bapak ini mudah saja. Beliau hanya bertugas menarik sebuah tuas yang mengerakkan roda-roda raksasa yang saling berhubungan untuk mengangkat jembatan yang merintangi jalan kereta api itu, sehingga kereta api tersebut dapat lewat dengan selamat -- jika jembatan tersebut tidak diangkat, maka kereta api itu akan mengalami kecelakaan yang sangat hebat.
Bapak ini memunyai satu orang anak yang sangat dikasihi dengan segenap jiwanya. Suatu hari, sang anak mengunjunginya di tempat kerja dan ia membiarkan anaknya melihat-lihat tempat kerjanya. Sewaktu anak ini menghampiri roda-roda raksasa tersebut, tiba-tiba sang anak terpeleset dan jatuh di antara roda-roda raksasa tersebut. Malang baginya, kaki anak kecil tersebut terjepit dengan eratnya di antara gerigi roda-roda raksasa. Melihat kaki anaknya yang terjepit, sang bapak dengan serta-merta menolong melepaskan kaki anak tersayangnya dari jepitan gerigi roda-roda.
Setelah berusaha sekian lama, sang bapak masih belum bisa melepaskan kaki anaknya. Sesaat kemudian, sang anak mulai menangis karena ketakutan. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar secara samar-samar suara peluit kereta api, memberi tanda agar jembatan itu harus segera diangkat. Sesaat kemudian, hati bapak ini menjadi sangat sedih dan ketakutan. Di dalam kecemasannya, dia masih berusaha melepaskan kaki anaknya, meskipun belum berhasil juga.
Tidak lama kemudian, suara peluit kereta api tersebut terdengar semakin jelas dan dekat. Hati bapak ini seketika menjadi hancur. Bapak ini mulai menangis dengan sedihnya. Di dalam hati bapak ini muncul suatu keraguan, haruskah dia mengorbankan anak satu-satunya demi menyelamatkan kereta api itu yang penumpangnya tak ada satu pun yang dia kenal? Namun, jika dia memilih untuk menyelamatkan anaknya, maka berapa jiwa yang akan melayang dengan sia-sia hanya gara-gara satu orang saja?
Sesaat kemudian, bapak ini perlahan-lahan mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang dan dengan hati yang hancur. Lalu bapak ini mulai berdiri dan menuju ke tuas pengangkat jembatan dengan air mata yang membasahi sampai ke bajunya. Sang bapak ini melihat sekali lagi pada anak satu-satunya itu. Sesaat kemudian, bapak ini menarik tuasnya, jatuh lemas, dan menangis sejadi-jadinya tanpa berani melihat proses kematian anaknya yang sangat tragis yang tidak pernah dibayangkan olehnya demi menyelamatkan orang-orang yang ada di dalam kereta api itu -- orang-orang yang sama sekali tidak menyadari bahwa saat itu juga mereka telah bebas dari kematian yang kekal.
Saudaraku yang terkasih, jika kita renungkan kembali kisah di atas, bukankah pengorbanan itu juga yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, di mana Yesus rela disalib hanya untuk menebus dosa kita? Siapakah kita ini sehingga kita memperoleh keselamatan itu? Sesungguhnya kita ini tidak lebih dari sampah yang tidak ada harganya. Tetapi kasih Yesus begitu besar, sehingga Dia rela mati di atas kayu salib hanya untuk menebus dosa kita.

4.      Orang Percaya Diselamatkan
Hal apa yang harus dilakukan oleh manusia untuk meresponi kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus? Yaitu dengan menerima bukan menolak. Mungkin saudara akan berkata: “saya tidak pernah berkata, saya tidak mengenal Engkau Tuhan”, seperti orang-orang yang saya jelaskan sebelumnya atau “Saya kan orang yang rajin beribadah dan rajin memuji Tuhan, bukankah hal itu sudah menunjukkan bahwa saya tidak menolak Tuhan?”. Tunggu dulu. Memang kamu tidak pernah berkata seperti itu, tapi saya akan berikan bentuk penolakan yang lain ketika saudara mengandalkan kesalehan hidup dalam memperoleh Anugerah keselamatan yang Tuhan Yesus janjikan, maka sesungguhnya saudara sedang menolak Tuhan Yesus, sedang tidak mengakui Karya Agung Tuhan Yesus di kayu salib. Ketika saudara bertindak seperti itu (mengandalkan perbuatan baik, kesalehan hidup, ibadah, pujian penyembahan, persepuluhan) sebenarnya saudara tidak hanya sedang menolak Tuhan Yesus, tapi saudara juga sedang membuat diri saudara berada di bawah kutuk. Yeremia 17: 5 berkata: terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan mengandalkan perbuatannya.
Efesus 2: 8-9 Menjelaskan bahwa: Sebab Karena Kasih Karunia Kamu Di Selamatkan Oleh Iman, Itu Bukan Hasil Usahamu, Tetapi Pemberian ALLAH. Itu Bukan Hasil Pekerjaanmu, Jangan ada Orang yang Memegahkan diri. Jadi jelaslah bahwa Keselamatan itu bukanlah hasil usaha, kesalehan hidup, ibadah, pelayanan kita, tetapi semata-mata hanya karena Anugerah (Sola Gracia). Yohanes 6: 47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Sangat jelaslah bagi kita sesungguhnya barang siapa yang percaya kepada Tuhan Yesus, ia mempunya hidup yang kekal/ keselamatan/ kepastian masuk sorga. Saat kapan kepastian itu kita dapatkan?? Saat saudara dan saya percaya kepada Tuhan Yesus, maka pada saat itu juga keselematan itu sudah menjadi milik saudara dan saya. Roma 10:9 mengatakan “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan”. Dan keselamatan yang Tuhan Yesus anugerahkan adalah keselamatan yang kekal (Yohanes 10:28).
Saat ini, ketika saudara membaca renungan ini, biar hati saudara diubahkan oleh Tuhan. Saya rindu melihat saudara di selamatkan, saya rindu saudara tidak menjadi orang yang menolak Tuhan, tetapi menjadi orang yang menerima Tuhan Yesus. Yohanes 1: 12 berkata: Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. Ketika saudara membuka hati menerima Tuhan Yesus untuk masuk di hati saudara maka Tuhan akan menjadikan saudara sebagai anak-anak Allah. Saudara sebagai anak berarti saudara berhak sebagai ahli waris dari apa yang telah disediakan Tuhan Yesus yaitu Sorga yang kekal. Roma 8: 17 berkata: Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Ibrani 3: 7-8 Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu….Buka hatimu untuk menerima Tuhan Yesus, sebab hanya di dalam Dia engkau memperoleh hidup yang kekal yaitu sorga yang dijanjikan-Nya.
Jika saudara mau membuka hati menerima Tuhan Yesus, saudara dapat meminta sendiri dalam doa kepada Tuhan, suapaya Tuhan Yesus masuk ke dalam hidup saudara. Atau saudara dapat menggunakan contoh doa ini: “Terima kasih Tuhan Yesus buat Firman-Mu saat ini, saya menyadari siapa diri saya selama ini saya adalah orang yang penuh dengan dosa, saya seringkali menolak Tuhan dalam hidup saua, saya mohon pengampunan dari Tuhan Yesus. Saat ini saya percaya Tuhan hanya dengan Iman dan Percaya maka saya memperoleh Anugerah hidup kekal yang Tuhan sediakan, saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya secara pribadi dan saya mengundang Engkau masuk dalam hidup saya, saya mau berbalik dari hidup saya selama ini dan hanya mengikut Tuhan Yesus saja. Amin”



Senin, 11 April 2011

Bukti Ke-ILAHIA-an Tuhan Yesus: Analisa Kain Kafan



1.      Apa itu Kain Kafan Turin?
Kain Kafan Kudus, yang dalam bahasa Italia biasa disebut “La Santa Sindone” (= Kafan Kudus), adalah sehelai kain linen berukuran kurang lebih 4,36 x 1,10 meter; pada kain kafan terlihat gambar, baik bagian depan maupun bagian belakang, dari seorang laki-laki yang wafat setelah mengalami serangkaian aniaya dengan didera, dimahkotai duri, dipakukan pada salib, dan lambungnya ditikam dengan tombak. Kain ini diyakini sebagai kain yang dipergunakan Yusuf dari Arimatea untuk membungkus tubuh Yesus Kristus (Matius 27:59).

2.      Bagaimana Sejarah Singkat Ditemukannya Kain Kafan?
Dalam hal ini perlu kita ingat dua peristiwa penting. Pertama: kota Yerusalem dihancurkan oleh balatentara Roma pada tahun 70 Masehi; semua penduduknya melarikan diri, termasuk Gereja awali. Kedua: peristiwa yang sama dan bahkan terlebih dahsyat terjadi pada tahun 132. Seluruh Palestina dihancurkan; sebagian besar penduduknya dibunuh sementara sebagian lainnya berhasil melarikan diri dan dilarang kembali ke kampung halaman mereka. Sepanjang kejadian ini, Kain Kafan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya dilarikan ke luar Palestina.
Pada abad kedua, di kota Edessa, Turki selatan, didapati suatu gambar khusus di atas kain yang diyakini sebagai Wajah Yesus. Pada tahun 525, sewaktu diadakan renovasi Gereja Santa Sofia di Edessa, ditemukan kembali gambar “Wajah Yesus” di atas kain yang disebut Mandilion (= sapu tangan); gambar Wajah Yesus diyakini sebagai acheropita (= tidak dibuat oleh tangan manusia). Wajah Kudus Edessa dijadikan model untuk ratusan gambar Yesus pada masa itu.
Pada tanggal 16 Agustus 944, Mandilion dibawa dengan perarakan meriah ke kota Konstantinopel. Setelah Mandilion dibuka untuk perbaikan bingkainya, ternyata kain didapati lebih besar dari yang nampak. Ternyata, kain itu dilipat delapan kali (= tetradiplon), dan gambar yang terdapat pada kain bukan hanya gambar Wajah Yesus, melainkan seluruh tubuh-Nya, bagian depan dan belakang. Sejak tahun 1578, Kain Kafan disimpan di Kapel Kerajaan di Katedral Santo Yohanes Pembaptis di kota Turin (= Torino), Italia.

3.      Apa yang Menarik dari Kain Kafan?
Pameran pertama Kain Kafan di Turin diadakan pada tahun 1898. Pada kesempatan itu, Secondo Pia, seorang fotografer Italia, diijinkan untuk membuat foto pertama Kain Kafan. Hasilnya amat menghebohkan; hasil foto itu seharusnya kelihatan seperti foto negatif, tetapi ternyata kelihatan sebagai foto positif, dengan demikian dapat dilihat lebih banyak hal yang sebelumnya tak terlihat oleh mata telanjang.
Setelah foto pertama itu, banyak lagi dibuat foto Kain Kafan oleh orang-orang lain juga dengan alat-alat yang semakin canggih sehingga semakin banyak detail yang dapat dilihat. Dari sana, dimulailah penelitian-penelitian seksama atas Kain Kafan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan hingga sekarang ini.

4.      Apa saja yang Ditemukan Para Ilmuwan?
Pada Kain Kafan para ahli mendapati noda-noda darah dan serum yang tidak bisa dibuat manusia. Darah adalah darah yang membeku di atas kulit seorang yang terluka, dan yang kemudian mencair kembali (= fibrinolisis) karena bersentuhan dengan kain lembab. Darah dari golongan AB; jenis golongan darah yang paling langka. Warna darah adalah merah kendati darah telah mengering, hal mana disebabkan karena Manusia Kain Kafan mati dalam penyiksaan yang hebat.
Darah Manusia Kain Kafan sama dengan darah pada Kain Peluh yang disimpan di Oviedo (Spanyol), yakni kain berukuran kurang lebih 83 x 52 cm dengan noda-noda darah sama seperti pada Kain Kafan. Menurut tradisi, Kain Peluh Oviedo yang biasa disebut Sagrado Rostro atau Wajah Kudus ini datang ke Spanyol dalam sebuah peti melalui Afrika Utara. Darah pada Sagrado Rostro memiliki golongan darah dan profil genetik yang sama dengan yang didapati pada Kain Kafan dan sama juga dengan darah pada Mukjizat Lanciano.
Gambar pada Kain Kafan merupakan foto negatif. Gambar hanya pada permukaan kain, tridimesional dan stabil secara ilmiah. Gambar didapati stabil juga dalam air, tanpa pigmen, tanpa arah, dan tidak terjadi karena tubuh bersentuhan dengan kain. Jadi, didapati juga gambar di tempat-tempat di mana kain tidak bersentuhan dengan tubuh. Hitam-putihnya gambar tergantung dari jarak dekat-jauh antara tubuh dan kain. Para ahli menyimpulkan bahwa gambar terjadi karena suatu radiasi cahaya dari tubuh itu sendiri.

5.      Ada Begitu Banyak Teori dan Hipotesa, lalu Apa yang Pasti Mengenai Kain Kafan?
Banyak ilmuwan berusaha membuat gambar yang sama seperti pada Kain kafan, bertolak dari kemungkinan bahwa Kain kafan adalah palsu atau sekedar lukisan. Dilakukan eksperimen vaporograi, kontak, atau dengan strinatura, namun tak satu eksperimen pun berhasil membuat gambar sama seperti gambar pada Kain Kafan.
Eksperimen serupa dilakukan Dr Sebastianus Rodante dengan menyemprotkan cairan kering dan darah pada wajah mayat, lalu ditutup dengan kain yang sudah dibasahi dengan cairan mur dan aloe. Gambar terjadi setelah kontak selama 36 jam. Tetapi, gas amoniak yang keluar dari mulut mayat, akibat proses pembusukan, merusakkan hasilnya. Gas amonia menyebar ke segala arah, bukan hanya ortogonal (atas bawah) seperti terjadi pada Kain kafan. Sementara pada Kain Kafan sama sekali tidak didapati adanya tanda-tanda terjadinya pembusukan.
Jadi, gambar PASTI bukan hasil alat-alat artifisial. Bukan lukisan dan bukan cetakan; sama sekali tidak didapati adanya pigmen. Bukan hasil vaporografi, yakni proses dimana campuran rempah-rempah, gaharu, serta minyak menimbulkan reaksi dengan amonia yang dikeluarkan tubuh sehingga membentuk suatu gambar pada kain. Bukan juga hasil strinatura, yakni kain ditempelkan pada patung panas, sebab gambar hasil strinatura tembus pada kain, condong hilang dan pantulan cahayanya berbeda dengan yang ada pada Kain kafan.

6.      Jadi, Kain Kafan Bukan Hasil Rekayasa Seniman Abad Pertengahan?
Pada Abad Pertengahan sama sekali tidak ada pengetahuan tentang pencambukan dan penyaliban, sebab hukuman itu sudah tidak dipakai lagi sejak akhir abad pertama. Seandainya Kain Kafan adalah hasil pemalsuan dari abad pertengahan, si jenius pemalsu tentunya tidak membuat sesuatu yang bertentangan dengan ikonografi pada masa itu, yakni: mahkota duri seperti helm, memikul patibulum (= palang, dan bukan salib), paku pada pergelangan tangan, telanjang total dan tanpa kayu penahan kaki. Mestinya juga ia memperhatikan adat pemakaman orang Yahudi pada masa Kristus.
Si pemalsu haruslah memakai mikroskop untuk menambah beberapa elemen yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti sari bunga, serum, rempah-rempah, aragonit; padahal mikroskop baru ditemukan pada akhir abad keenambelas. Ia juga harus mengenal alat foto, padahal alat foto baru ditemukan pada abad kesembilanbelas. Ia harus mengenal pula dua jenis aliran darah, vena dan arteri, yang baru dikenal pada tahun 1593, dan menodai Kain Kafan dengan dua jenis aliran darah tersebut tepat pada tempatnya. Lagi, seandainya si pemalsu memiliki segala teknologi yang disebutkan di atas, ia seharusnya juga memiliki kecakapan serta alat-alat yang diperlukan untuk membuat gambar seperti Kain Kafan. Dan si pemalsu itu, yang luar biasa jeniusnya, tidak meninggalkan bekas, atau catatan, atau sesuatu yang di kemudian hari dapat dideteksi menggunakan alat-alat canggih seperti sekarang ini.
Yang pasti adalah bahwa Kain Kafan telah dipergunakan untuk membungkus jenasah. Itu berarti, jika Kain Kafan itu hasil rekayasa, maka si pemalsu adalah seorang pembunuh. Dalam kasus ini, tingkat kesulitan akan lebih tinggi. Pikirkan: si pemalsu memakai seorang yang bentuk wajahnya sangat mirip dengan semua ikon “Wajah Kudus” yang beredar sebelumnya. Ia harus menyiksa korbannya begitu rupa demi mendapatkan luka-luka sesuai dengan ikon-ikon yang beredar. Ia harus menikam lambung korbannya dengan tombak Romawi dan membubuhkan darah dan serum. Ia harus membungkus jenasah korbannya selama kurang lebih 35 jam, tanpa membiarkannya mengalami pembusukan; hal mana sangat sulit, sebab tubuh orang yang mati karena penyiksaan akan lebih cepat membusuk. Dan akhirnya, ia harus “mengeluarkan” jenasah dari Kain Kafan tanpa mengakibatkan pergeseran dan merusak bekuan darah. Untuk ukuran saat ini saja, abad teknologi yang serba canggih, sangat sulit melakukan hal-hal seperti di atas, apalagi pada Abad Pertengahan!

7.      Bagaimana Disimpulkan bahwa Kain Kafan berasal dari Palestina?
Ada beberapa alasan yang menyebabkan para ahli menarik kesimpulan bahwa Kain Kafan berasal dari daerah Palestina:
ØCara kerja pembuatannya agak kasar: benang diputar arah Z (searah jarum jam); tenunannya 3 a 1, adanya bekas-bekas katun Mesir yang sangat kuno; tidak didapati serat binatang (wol), sesuai ketetapan hukum Yahudi yang tidak memperbolehkan mencampur benang alami dengan benang wol;
ØDidapati banyak sekali jenis sari bunga yang berasal dari Timur Tengah, di antaranya aloe (= gaharu) dan mur;
ØDidapati adanya aragonit, yaitu sejenis kalsium yang banyak ditemukan di gua-gua sekitar Yerusalem;
ØDidapati adanya bekas gambar mata uang yang diedarkan oleh Ponsius Pilatus pada tahun 29 M pada mata kanan dan kiri Manusia Kain Kafan.

8.      Bukti2 Apa Saja yang Menguatkan bahwa Kain Kafan Sungguh Digunakan untuk Membungkus Tubuh Yesus?
Terdapat banyak kecocokan sempurna antara kisah Injil Sengsara dengan apa yang ditemukan pada Kain Kafan:
*      Penderaan tersendiri, terlalu banyak deraan sebagai pendahuluan penyaliban
*      Mahkota duri, hal yang tak lazim
*      Memikul patibulum
*      Dipaku, bukan diikatkan, pada salib
*      Luka pada lambungnya dan keluarnya darah dan serum
*      Kakinya tidak dipatahkan
*      Jenasahnya tidak dimandikan sebelum dimakamkan
*      Jenasahnya dibungkus dengan Kain Kafan baru yang mahal, bukan dibuang dalam lubang umum sebagaimana lazimnya
*      Tubuhnya tidak lama tinggal dalam Kain Kafan
Mustahil ada orang lain yang mengalami hal-hal yang persis sama dengan yang dialami Yesus. Mari kita lihat satu-persatu dengan lebih seksama kesamaan antara sengsara Manusia Kain Kafan dan sengsara Yesus Kristus: 

a.       Penderaan
Pada tanggal 4 Desember 1532 terjadi kebakaran di Kapel Kastil Chambery di mana Kain Kafan disimpan. Kain Kafan selamat, tetapi terbakar di bagian pinggir lipatannya ketika reliquary perak - tempat Kain Kafan disimpan - mulai meleleh. Para suster Klaris yang diminta menambal Kain Kafan dan yang sempat mengamati gambar dengan seksama, mengatakan bahwa sekujur tubuh Manusia Kain Kafan penuh luka-luka hingga nyaris tidak ada tempat tanpa luka. Sekarang, berkat penelitian dan peralatan canggih dapat direkonstruksi bagaimana penderaan yang diderita Manusia Kain Kafan.
*      Manusia Kain Kafan menanggung lebih dari 120 deraan, sementara hukum Yahudi memperbolehkan hanya 40 dikurangi satu deraan. Berarti hukuman dilakukan menurut hukum Romawi yang tidak membatasi jumlah deraan.
*      Setiap deraan dilakukan secara sistematis, bukan sembarangan, berarti dilakukan oleh orang-orang yang profesional.
*      Cambuk yang digunakan dilengkapi dengan dua bulatan timah atau tulang pada ujungnya.
*      Manusia Kain Kafan didera dalam keadaan telanjang, kelihatan bekasnya di mana-mana di sekujur tubuh, dalam posisi terikat dan membungkuk. Ia didera sebelum memikul salib, berarti hukuman penderaan merupakan hukuman tersendiri. Barulah kemudian ia memikul palang salib (= patibulum) seperti terlihat dari luka-luka memar pada pundaknya di atas luka cambuk.

b.      Mahkota Duri

Terdapat banyak luka tusukan akibat mahkota duri pada kepala Manusia Kain Kafan. Mahkota ini bukan terdiri dari satu atau dua lingkaran, melainkan lebih merupakan suatu mahkota berbentuk helm yang menutup seluruh kepala. Mahkota duri seperti tampak pada gambar atau patung yang banyak beredar sekarang adalah hasil devosi dan gaya lukis artis Eropa abad pertengahan.
Kepala, baik `kiri maupun kanan' menderita lebih dari 50 tusukan duri. Duri-duri itu menembusi juga beberapa pembuluh darah, vena dan arteri, seperti terlihat dari jenis darah yang membasahi seluruh kepala Manusia Kain Kafan. Ada dua noda darah akibat tusukan duri yang perlu kita beri perhatian secara khusus: Pertama, darah berbentuk angka tiga yang mengalir dari dahi Manusia Kain Kafan. Darah itu adalah jenis darah vena yang memancar dari pembuluh vena di dahi; berbentuk demikian sebab terhalang oleh kerut dahi akibat menahan rasa sakit karena tusukan duri. Yang Kedua adalah darah yang mengalir di bagian kanan atas kepala Manusia Kain Kafan. Darah itu memancar dari pembuluh arteri, dan karena tekanan yang kuat, maka mengalir lebih jauh.
Permasalahannya adalah: adanya dua jenis tekanan darah pada manusia, yakni vena dan arteri, baru ditemukan pada tahun 1595 oleh Andrea Cesalpino. Seandainya Kain Kafan adalah hasil rekayasa manusia abad ke-13, bagaimana mungkin si pemalsu bisa menempatkan kedua jenis darah itu tepat pada tempatnya, padahal ia tidak mengenal tekanan darah vena dan arteri?

c.       Manusia Kain Kafan Memikul Patibulum
Sebagian besar lukisan Yesus memikul salib menggambarkan salib yang lengkap, dengan tiang dan palang. Lukisan macam itu merupakan hasil devosi dan bukan berdasarkan pengetahuan ilmiah. Dari penelitian cermat atas Kain Kafan, terlihat dua luka memar pada punggung Manusia Kain Kafan; yang kiri lebih rendah dari yang kanan. Seandainya ia memikul seluruh salib, luka akan terjadi di bagian atas bahu, dan bukan pada punggung. Mengingat si terhukum harus berjalan ke tempat eksekusi, maka bisa dipastikan bahwa kedua luka memar adalah akibat gesekan punggung dengan kayu patibulum.

d.      Luka-luka pada Lutut
Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, Kalvari, apabila pesakitan yang hendak disalibkan lebih dari satu orang, maka mereka akan diikatkan satu dengan yang lain agar tak dapat melarikan diri. Manusia Kain Kafan berjalan tertatih-tatih, sebab ia telah begitu lemah akibat penderaan, pemahkotaan duri, serta segala perlakuan kasar dan brutal yang dideritanya seperti terlihat jelas dalam Kain Kafan. Ditambah lagi, posisinya berada di urutan paling belakang dalam iring-iringan ketiga orang yang dijatuhi hukuman mati, membuat ia rentan jatuh berkali-kali dengan lutut dan wajahnya menghantam batu jalanan yang keras. Pada Kain Kafan ditemukan banyak “tanah lumpur” pada lutut, hidung dan tumit, jelas akibat benturan dengan batu jalanan.

e.       Wajah Manusia Kain Kafan
Wajah Manusia Kain Kafan merupakan bagian tubuh yang paling dahsyat mengalami kerusakan. Tetapi wajah itu tetap memancarkan cahaya keagungan; sedih namun tetap tenang. Bukan seperti wajah orang yang telah mengalami sekian banyak penyiksaan.
Pada wajah Manusia Kain Kafan nampak sangat jelas akibat dari bermacam-macam siksaan, di antaranya:
*      Dipukul dengan tongkat kayu; lihat pipi kanan dan hidung
*      Mata kiri tertutup darah; darah juga terdapat pada mata kanan
*      Memar pada tulang pipi
*      Darah memancar dari hidung
*      Memar pada kelopak mata kiri dan kanan
*      Darah memancar dari bawah bibir atas
Setelah mengetahui apa yang terjadi pada wajah Manusia Kain Kafan, kita jadi lebih mudah memahami mengapa tradisi devosi Kristiani menempatkan seorang perempuan di jalan salib, Veronica, yang mengusap Wajah Kudus Yesus! Perhentian Jalan Salib ke-VI mencoba mengungkapkan justru devosi, hormat dan cinta terhadap Wajah Kudus itu.

f.        Luka pada Tangan dan Kaki
Manusia Kain Kafan memperlihatkan tangan yang bersilang, tangan kiri di atas tangan kanan, sehingga kita bisa melihat luka paku hanya pada tangan kiri. Dari luka ini para ahli berkesimpulan bahwa paku menembusi pergelangan tangan di tempat yang disebut Destot. Dari luka pada pergelangan tangan ini terpancar tiga aliran darah: dua aliran langsung ke pinggir dan jatuh ke tanah, sementara satu aliran sampai ke siku.
Arah aliran darah yang berbeda ini bisa dijelaskan sebagai berikut: Manusia Kain Kafan dipaku tangannya dalam posisi berbaring di tanah pada patibulum, kemudian diangkat ke atas stipes (= tiang) sehingga posisi tangan berubah dari horisontal menjadi vertikal. Tangan kanan terlihat lebih tersiksa dari tangan kiri. Punggung tangan kelihatan rusak akibat gesekan dengan kayu. Pada tangannya tidak terlihat ibujari sebab ibujari tertekuk ke dalam akibat tarikan paku di pergelangan tangan.
Kaki kiri Manusia Kain Kafan tampak lebih pendek dari kaki kanan. Hal ini disebabkan kaki kiri ditempatkan di atas kaki kanan dalam penyaliban. Karena Manusia Kain Kafan menjadi kaku setelah kematiannya, maka kaki kiri tetap kelihatan lebih pendek.

g.       Sakrat Maut dan Wafat di Salib
Biasanya orang yang disalibkan mati setelah mengalami sakrat maut yang panjang. Bapa Gereja Origenes mengatakan bahwa orang yang disalibkan bertahan “satu malam dan hari berikutnya.” Tetapi Yesus bertahan cuma beberapa jam saja. Apakah yang mengakibatkan-Nya wafat begitu cepat?

Beberapa hipotesa:
a)      Asfissia: Manusia Kain Kafan tak dapat bernafas dalam posisi tergantung di atas salib seperti itu sehingga mengalami kejang otot dan akhirnya mati.
b)      Kolaps ortostatik: yaitu tensi tiba-tiba turun, mengakibatkan kondisi tak sadar hingga koma dan mati.
c)      Emotoraks: karena benturan keras pada dada (akibat jatuh) maka terjadi pendarahan pada paru-paru. Darah yang keluar dari luka-luka dalam itu terkumpul dalam pleura (kantung pembungkus paru-paru). Akibat terlalu banyak darah yang terkumpul di sana, Manusia Kafan tak dapat bernafas dan akhirnya mati.
d)      Jantung pecah: sekarang sebagian besar para ahli yang mempelajari fenomena kematian Manusia Kain Kafan, dengan mempertimbangkan sebab-sebab intern dan ekstern Manusia Kain Kafan selama sengsara, berkesimpulan bahwa kematian terjadi akibat jantung pecah diikuti pendarahan cukup besar pada emoperikardium, yaitu kantong elastis yang membungkus jantung.
Mereka mengajukan bukti-bukti sebagai berikut:
ü      Seruan nyaring yang keluar dari tenggorokannya sebelum wafat, “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya” (Markus 15:37)
ü      Kematian-Nya yang cepat mengherankan Pilatus: “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati” (Markus 15:44)
ü      Noda darah dan air dari luka lambung.
ü      “Segera mengalir keluar darah dan air” (Yohanes 19:34); banyaknya darah dan air yang menyembur dari luka merupakan suatu hal yang aneh bagi orang yang sudah mati dan sudah kehilangan banyak darah.
Penjelasan Lanjut mengenai teori ini:
Orang yang mati karena jantung pecah diikuti emoperikardium akan berseru kesakitan sebelum mati; perikardiumnya dipenuhi darah hingga lebih dari satu liter. Jika orang yang mati demikian dibiarkan selama satu setengah atau dua jam dalam posisi vertikal, maka darah dalam perikardium akan terpisah menjadi dua bagian: yang merah di bagian bawah dan yang putih / kuning di bagian atas. Jika perikardium ditusuk, maka akan segera menyembur keluarlah isinya: darah dan air, yang dilihat oleh Yohanes.
e)      “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri” (Yohanes 10:17-18). Alasan yang paling cocok dengan Injil dan seluruh rencana Allah adalah bahwa Yesus wafat karena Ia Sendiri menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya. Sebab Ia datang untuk menyerahkan Diri-Nya karena cinta-Nya kepada manusia.

h.       Luka pada Lambung
Pada lambung kanan kita melihat sebuah luka terbuka; luka itu ternganga, artinya luka terjadi setelah orangnya mati. Luka itu panjangnya 4,5 cm, lebarnya 1,5 cm, dan dalamnya diperkirakan 5 atau 6 cm. Luka terjadi karena tombak, yang membuat luka itu masuk dari bawah ke atas dan menembusi perikardium sehingga “darah dan air” tersembur keluar. Semua yang dialami Manusia Kain Kafan, seperti tergambar pada Kain Kafan, kelihatan cocok sempurna dengan apa yang dialami Yesus seperti dicatat dalam Injil.

9.      Adakah Penemuan-penemuan Terbaru?
Dr John Jackson dan Eric Jumper menemukan bahwa gambar Kain Kafan merupakan foto tiga dimensi. Di samping itu, mereka menegaskan beberapa hal berikut:
ü      Gambar terjadi karena “bulu” Kain Kafan berubah warna. Di mana gambar lebih hitam, di situ didapati lebih banyak bulu berubah warna. Perubahan warna terjadi karena bulu mengalami dehidrasi (= kehilangan air)
ü      Gambar adalah proyeksi vertikal pada meja horizontal
ü      Tidak ada gambar kiri-kanan, sedangkan ada noda darah samping
ü      Di bawah noda darah tidak didapati gambar. Artinya: darah melekat terlebih dahulu, sehingga menghalangi gambar terjadi di bawahnya.

10.  Apa yang Masih Belum Diketahui Mengenai Kain Kafan?
Pada Kain Kafan tidak didapati adanya tanda-tanda pembusukan, berarti Manusia Kain Kafan hanya tinggal dalam Kain Kafan sekitar 30-36 jam. Tidak didapati tanda-tanda adanya pergeseran tubuh dalam Kain Kafan; tubuh seperti lenyap begitu saja dari Kain Kafan. Gambar terjadi karena suatu pancaran cahaya. Sebagian orang mengaitkan pancaran cahaya ini dengan peristiwa kebangkitan. Yang belum diketahui adalah mekanisme fisik-kimia yang menyebabkan terjadinya gambar, yakni pancaran sinar yang tidak menembus kain, yang semakin berkurang apabila semakin jauh dari sumber.

Beberapa Catatan Khusus:
1)      Manusia Kain Kafan dimakamkan secara layak dan pantas, sesuatu yang tak lazim bagi seorang yang dihukum mati disalib.
2)      Manusia Kain Kafan tidak dimandikan.
3)      Hanya orang kaya atau terpandang saja yang dapat menghadap penguasa meminta jenasah orang yang dihukum mati. Itulah Yosef dari Arimatea yang berani menghadap Pilatus, meminta jenasah Yesus, dan memakamkan-Nya secara pantas.
4)      Manusia Kain Kafan tinggal hanya beberapa jam saja dalam makam, antara duapuluh sampai tigapuluh jam. Lebih lama dari tenggang waktu itu, pastilah jenasahnya sudah mulai mengalami proses pembusukan, sementara tidak didapati tanda-tanda pembusukan pada Kain Kafan.
5)      Jenasah terpisah dari Kain Kafan secara istimewa atau luar biasa, sebab Kain Kafan pastilah melekat pada seluruh tubuh orang yang dibungkusnya, namun demikian tidak didapati adanya tanda-tanda jenasah dikeluarkan atau digeser pada Kain Kafan.
6)      Kain Kafan disimpan orang kendati berlumuran darah. Hal ini secara historis tak dapat dimengerti, sebab bagi orang Yahudi, menyentuh makam atau benda-benda dalam makam menajiskan orang. Di samping itu, mengambil barang dari makam, selain menajiskan, juga diancam hukuman mati. Pastilah ada suatu alasan yang sungguh luar biasa, sehingga orang menyimpan Kain Kafan.

KESIMPULAN
Secondo Pia, fotografer yang pertama kali memotret Kain Kafan, membangkitkan amat banyak reaksi, terutama di kalangan para ilmuwan. Para ahli ini telah mendekati Kain Kafan terdorong keinginan untuk menyingkapkan misterinya. Dan justru pada abad teknologi ini, tersedianya peralatan-peralatan paling canggih memungkinkan manusia datang mempelajari misteri Kain Kafan dengan terlebih cermat dan seksama. Yesus menyapa setiap orang melalui “foto negatif Diri-Nya” yang ditinggalkan-Nya sebagai tanda kasih bagi kita, dengan berkata “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:27).
Puluhan sektor ilmu pengetahuan telah mempelajari Kain Kafan. Anehnya, semakin dipelajari dan diselidiki oleh semakin banyak orang dengan berbagai ragam bentuk metode yang dilakukan justru dalam upaya untuk menyangkalnya, semakin terbuktilah kesesuaiannya dengan apa yang dicatat dalam Kitab Suci. Bapa Suci Paus Paulus VI mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan “satu ikon Sengsara Yesus.” Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan Injil Kelima, sebab di sana “tertulis” dalam gambar-gambar yang sangat hidup seluruh pengalaman sengsara Yesus.
Orang-orang pertama yang menyangkal keaslian Kain Kafan adalah justru orang-orang Katolik. Tetapi, telah bangkit menentang mereka, banyak ilmuwan dari berbagai aliran kepercayaan dan ilmu pengetahuan. Lihat saja Ives Delage (agnostik); Max Frei (protestan); Adler (Yahudi); Pellicori (agnostik); Vernon Miller (mormon). Mereka ini semua yang telah mendekati Kain Kafan lebih sebagai peninggalan sejarah daripada reliqui, dan mempelajarinya dengan berbagai metode dan teknik yang berbeda, telah menyatakan bahwa Kain Kafan adalah asli. Pada tahap ini, kekaguman para ilmuwan haruslah diganti dengan kekaguman iman. Tidaklah cukup membuat daftar tanda-tanda sengsara seperti yang tergambar pada Kain Kafan; tidaklah cukup mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar Yesus dari Nazaret. Tetapi, lebih jauh, semuanya itu hendaknyalah menghantar kita pada iman yang lebih mendalam kepada Dia, Yesus Kristus yang kita imani, yaitu Dia yang telah menderita sengsara, wafat dan bangkit demi menebus umat manusia.

sumber : “Seminar Kain Kafan” oleh Pastor Gabriele Antonelli, CP.Lic.Thel.

Selasa, 22 Februari 2011

Multiplikasi dan Promosi: Diberkati seperti Abraham


Nats Bacaan: Ibrani 11: 8-12


Memasuki tahun 2011, Tuhan memberikan tuntunan kepada gereja dimana saya beribadah (Gereja Bethel Indonesia) adalah Tahun Multiplikasi dan Promosi. Untuk dapat menuai apa yang sudah Tuhan janjikan bagi saudara dan saya yang percaya kepada tuntunan ini, saya mencoba membagikan beberapa kunci yang benar menurut kebenaran firman Tuhan.

Sesuai dengan pembacaan nats Alkitab di atas, kita melihat sebuah panggilan bagi Abraham (saat itu namanya masih Abram) untuk keluar dari rumahnya, tanahnya dan pergi ke suatu daerah yang sudah Tuhan janjikan bagi dia dan keturunannya yaitu tanah Kanaan. Dua janji berkat yang Tuhan janjikan kepada Abraham, kalau dia mau taat kepada panggilan ini. Dalam Kejadian 12: 2-3 di catat: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Berdasarkan ayat tersebut, Tuhan memberikan janji kepada Abraham:
-         Menjadi bangsa yang besar. Di dalam Kejadian 15: 5 dikatakan bahwa Abraham akan memiliki keturunan sebanyak bintang di langit, bahkan di ayat yang lain dikatakan seperti pasir di tepi pantai banyaknya.
-         Menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan olehnya bangsa lain di muka bumi akan diberkati.
Janji yang Tuhan berikan kepada Abraham berbicara tentang “Multiplikasi dan Promosi”.
Ada satu pertanyaan yang terbersit di dalam hati saya ketika Tuhan memutuskan untuk memilih Abram untuk menuai janji-janji itu. Bukankah saat itu masih ada saudaranya Nahor yang masih hidup? Kenapa Tuhan tidak memilih Nahor untuk menuai janji-janji itu? Disamping Abram sebagai anak sulung (Kej 11:27), kualitas apa yang dimiliki oleh Abram sehingga ia dipilih oleh Tuhan dan apa kunci untuk mendapatkan janji-janji tersebut?

1.      Iman
Dalam Ibrani 11: 1 dalam Amplified version dikatakan bahwa: NOW FAITH is the assurance (the confirmation, the title deed) of the things [we] hope for, being the proof of things [we] do not see and the conviction of their reality [faith perceiving as real fact what is not revealed to the senses]. Jadi iman menjadi garansi/ jaminan dari apa yang sedang kita harapkan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi, tapi kita yakin hal tersebut bisa terjadi maka hal tersebutlah yang dinamakan dengan iman. Dan iman merupakan pusat dari segala sesuatu yang sedang kita harapkan, itu berarti segala hal yang sedang terjadi dan yang sedang kita nanti-nantikan maka muaranya adalah iman.
Dalam nats yang kita baca di atas. Kata iman diulang sampai tiga kali: (8) Karena iman Abraham taat………, (9) Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu……dan (11) Karena iman ia juga dan Sara………… Jadi iman memegang peranan yang penting di dalam menanti-nantikan janji Tuhan sekalipun itu kelihatannya mustahil. Dan kualitas inilah yang dimiliki oleh Abram dan tidak dimiliki oleh orang lain sejamannya.
Iman memiliki 3 content mutlak, yaitu: pengetahuan, persetujuan dan pengandalan. Pengetahuan berarti kita tahu siapa yang kita percayai dan dasar apa kita untuk memiliki iman. Persetujua, tidak cukup hanya tahu tetapi kita juga setuju dengan apa yang sedang kita ketahui tersebut, lalu kemudia pengandalan diri kepada apa yang diketahui dan disetujui tersebut.

2.      Ketaatan untuk Keluar
a. Ketaatan
Dalam Kejadian 12: 1 dikatakan: TUHAN berkata kepada Abram, "Tinggalkanlah negerimu, kaum keluargamu dan rumah ayahmu, lalu pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu (BIS). Kunci berikutnya untuk menuai janji Tuhan tersebut harus keluar dari tanahnya, dari rumah orang tuanya pergi ke tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan menjadi miliki pusakanya. Dimanakah tanah Kanaan itu? Apakah Abram tahu dimana tempatnya? Ibrani 11: 8b …… lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Ternyata Abram tidak tahu dimana itu tanah Kanaan. Jadi dia tidak tahu ketika keluar dari rumah itu dia mau belok kiri atau belok kanan. Menuju tanah Kanan itu ada berapa persimpangan yang harus dilewati, dan dia juga tidak tahu nanti di tanah Kanan itu akan melakukan usaha apa?
Coba bayangkan jika saudara dalam posisi Abram saat itu, Tuhan panggil keluar dari ‘rumah’, kota tempat tinggal saat ini. Supaya cara berpikir kita lebih terbuka, ada baiknya kita tahu sedikit kondisi Abram pada saat dia dipanggil oleh Tuhan. pertama Kejadian 12: 5b mencatat…..dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran…….berarti pada saat itu kondisi Abram sedang dalam keadaan ‘makmur’ karena dicatat di Alkitab dia memiliki harta benda dan para pelayan, kata orang-orang dalam teks ini diterjemahkan dari kata servants yang berarti pelayan. Kedua, Kejadian 12: 4c…… Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. Usia 75 tahun menurut saya bukanlah usia yang produktif lagi untuk pergi ke daerah lain apalagi daerah itu adalah daerah yang tidak diketahui.
Mengingat semua hal tersebut, saya pikir ada banyak alasan bagi Abram untuk berkata kepada Tuhan: “Tuhan, saya kan sudah tua saya ga kuat lagi untuk mengembara/ melakukan perjalanan jauh” atau mungkin lebih halus dia bisa berkata: “Tuhan, kemenakan saya lot sajalah yang Tuhan panggil atau saudara saya Nahor” atau mungkin banyak alasan lain yang lebih realistis untuk menolak Tuhan dengan halus. Tapi apakah dia mau melakukannya? Tidak. Dia taat pada panggilan Tuhan. Mengapa? Karena dia punya iman.
Jadi, untuk bisa menuai apa yang dijanjikan Tuhan di tahun ini maka kualitas yang harus kita miliki dalam hidup kita adalah ketaatan kepada kebenaran Firman Tuhan. Kebiasaan untuk mempertentangkan kebenaran firman Tuhan harus kita tinggalkan. Imani saja apa yang menjadi tuntunan Tuhan tanpa harus mempertentangkannya.

b. Keluar
Kemudian hal yang tidak kalah penting ketika Abram dipanggil keluar dari Haran menuju tanah Kanaan adalah ada hal yang harus dia tinggalkan. Apa itu? Orang tuanya, saudaranya Nahor, tanah yang menjadi bagiaannya (warisan) dan mungkin banyak hal lain lagi. Dengan demikian ada hal yang harus ditinggalkan oleh Abram untuk menuai janji-janjinya Tuhan. Demikian juga halnya dengan kita, ada sesuatu hal yang harus kita tinggalkan yang membuat kita untuk layak menerima janji Tuhan di tahun ini. Apa saja? Mungkin kebiasaan menggerutu, mengumpat, berbohong, atau kebiasaan-kebiasaan yang lain yang tidak baik atau yang disebut dengan perbuatan daging (Gal 5: 19-21)

3.      Menanti-nantikan dengan setia
Hal berikutnya yang dilakukan oleh Abram adalah dia menanti-nantikan janji Tuhan dengan setia. Dalam Ibrani 11: 11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Walau tidak ada kesempatan untuk berharap lagi karena kondisi Sara isterinya adalah mandul (Kejadian 11: 30a) dan sudah tua (Kej 17:1). Apa yang membuat mereka bisa menanti-nantikan janji itu? Iman.
Mungkin ada hal yang sedang kita gumulkan selama bertahun-tahun dan belum dijawab oleh Tuhan, saya juga mengalami hal tersebut dan bahkan sudah lebih dari sepuluh tahun. Sesuatu hal yang menguatkan saya untuk tetap mendoakannya adalah perkataan: ”Dia yang memberikan janji itu setia”. Saya percaya ketika saya berharap kepada Tuhan yang setia, maka saya tidak akan dikecewakan. Apa yang sedang saya doakan akan Tuhan jawab sesuai dengan waktunya Tuhan. Permasalahannya selama ini adalah kita tidak setia menanti-nantikan janjinya Tuhan sesuai dengan waktu-Nya. Sering sekali kita memaksakan sesuai dengan waktunya kita, sehingga hal yang pasti terjadi adalah kesalahan.

4.      Persembahan
Ketika mendengar persembahan mungkin pikiran kita akan terkoneksi dengan uang. Jika hal tersebut ada, saya tidak menyalahkan saudara. Tapi, persembahan yang sebenarnya bukan hanya berbicara uang. Persembahan yang terbaik adalah mempersembahkan harta yang termahal di dalam hidup kita. Abram melakukan hal tersebut. Ketika Tuhan meminta supaya Abram mempersembahkan anaknya Ishak  untuk menguji kesetiaannya (Kejadian 22:1-19), Abram taat melakukannya. Sebenarnya ada banyak alasan bagi Abram untuk menolak permintaan Tuhan. Ishak adalah satu-satunya ahli waris janji Tuhan (Ibrani 11: 18) karena Tuhan sudah menolak Ismail anak dari Hagar pelayan dari Sara, (bdk. Kej 15: 4), persembahan korban manusia pada saat itu tidaklah hal yang lazim dan hal yang paling masuk akal karena Ishak adalah yang lahir di usia tua mereka dan anak yang mereka nanti-nantikan dengan sangat lama. Tapi kalau kita membaca nats tersebut, adakah Abram menolak permintaan Tuhan? Tidak, mengapa? Karena dia punya iman. Ibrani 11: 17,19 mencatat: Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. Apa hasil dari ketaatan Abram? Iapun menerima kembali apa yang dijanjikan tersebut, karena ia mempersembahkan harta termahal dalam hidupnya.
Dalam Kejadian 14: 20 dicatat di dalam Alkitab, Abram adalah orang yang pertama sekali memberikan persembahan persepuluhan. Di samping persembahan tersebut di atas, adalah persembahan yang wajib hukumnya untuk kita persembahkan adalah persembahan persepuluhan (Mal 3:10). Mulai hari ini, setialah memberikan persembahan persepuluhan, Tuhan berjanji akan mengembalikannya sampai tidak ada lagi tempat bagi kita untuk menampungnya: …..that there shall not be room enough to receive it (AV).
Persembahan apa lagi yang perlu kita persembahkan? Waktu untuk membangun mezbah dengan Tuhan. Relakan waktu tidur saudara berkurang dengan bangun lebih awal, kumpulkan keluarga untuk mulai menyembah, berdoa dan baca firman Tuhan setiap pagi. Relakan waktu yang selama ini saudara gunakan untuk menonton sinetron yang tidak memiliki nilai edukasi, waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu untuk mulai mempelajari Firman Tuhan dan menjadi saksi bagi orang-orang di sekitar saudara. Persembahkan waktu yang ada untuk melayani Tuhan, walau dalam ukuran manusia pelayan tidak menghasilkan uang (karena banyak orang yang memili cara berpikir seperti itu).

5.      Membangun Hubungan yang Intim dengan Tuhan
Setiap kali Abram berkemah atau tinggal di suatu tempat maka di situ dia mendirikan mezbah bagi Tuhan (Kej 12: 7,8). Hal ini menunjukkan betapa Abram bergantung kepada Tuhan dan menyadari keterbatasan yang dia miliki tanpa Tuhan. Adakah kerinduan kita seperti kerinduan yang dimiliki oleh Abram ini untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan setiap hari. Memulai dan mengakhiri sebuah hari dengan memanggil/ menyembah Tuhan? Ketika kita memanggil Tuhan, itu berarti kita sedang mengandalkan Tuhan. Ketika manusia sudah mulai mengandalkan Tuhan, Yeremia 17: 7,8 mencatat Tuhan akan memberkati seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang merambatkan akarnya, yang daunnya tetap hijau meskipun ada musim kemarau dan menghasilkan buahnya pada musimnya.

Kiranya lewat kebenaran ini, para pembaca sekalian diberkati oleh Tuhan dan dimampukan untuk menuai janji-janji Tuhan di tahun ini.

Nats Alkitab:

(8) Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.
(9) Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.
(10) Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
(11) Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.
(12) Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.