Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2011

Bukti Ke-ILAHIA-an Tuhan Yesus: Analisa Kain Kafan



1.      Apa itu Kain Kafan Turin?
Kain Kafan Kudus, yang dalam bahasa Italia biasa disebut “La Santa Sindone” (= Kafan Kudus), adalah sehelai kain linen berukuran kurang lebih 4,36 x 1,10 meter; pada kain kafan terlihat gambar, baik bagian depan maupun bagian belakang, dari seorang laki-laki yang wafat setelah mengalami serangkaian aniaya dengan didera, dimahkotai duri, dipakukan pada salib, dan lambungnya ditikam dengan tombak. Kain ini diyakini sebagai kain yang dipergunakan Yusuf dari Arimatea untuk membungkus tubuh Yesus Kristus (Matius 27:59).

2.      Bagaimana Sejarah Singkat Ditemukannya Kain Kafan?
Dalam hal ini perlu kita ingat dua peristiwa penting. Pertama: kota Yerusalem dihancurkan oleh balatentara Roma pada tahun 70 Masehi; semua penduduknya melarikan diri, termasuk Gereja awali. Kedua: peristiwa yang sama dan bahkan terlebih dahsyat terjadi pada tahun 132. Seluruh Palestina dihancurkan; sebagian besar penduduknya dibunuh sementara sebagian lainnya berhasil melarikan diri dan dilarang kembali ke kampung halaman mereka. Sepanjang kejadian ini, Kain Kafan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya dilarikan ke luar Palestina.
Pada abad kedua, di kota Edessa, Turki selatan, didapati suatu gambar khusus di atas kain yang diyakini sebagai Wajah Yesus. Pada tahun 525, sewaktu diadakan renovasi Gereja Santa Sofia di Edessa, ditemukan kembali gambar “Wajah Yesus” di atas kain yang disebut Mandilion (= sapu tangan); gambar Wajah Yesus diyakini sebagai acheropita (= tidak dibuat oleh tangan manusia). Wajah Kudus Edessa dijadikan model untuk ratusan gambar Yesus pada masa itu.
Pada tanggal 16 Agustus 944, Mandilion dibawa dengan perarakan meriah ke kota Konstantinopel. Setelah Mandilion dibuka untuk perbaikan bingkainya, ternyata kain didapati lebih besar dari yang nampak. Ternyata, kain itu dilipat delapan kali (= tetradiplon), dan gambar yang terdapat pada kain bukan hanya gambar Wajah Yesus, melainkan seluruh tubuh-Nya, bagian depan dan belakang. Sejak tahun 1578, Kain Kafan disimpan di Kapel Kerajaan di Katedral Santo Yohanes Pembaptis di kota Turin (= Torino), Italia.

3.      Apa yang Menarik dari Kain Kafan?
Pameran pertama Kain Kafan di Turin diadakan pada tahun 1898. Pada kesempatan itu, Secondo Pia, seorang fotografer Italia, diijinkan untuk membuat foto pertama Kain Kafan. Hasilnya amat menghebohkan; hasil foto itu seharusnya kelihatan seperti foto negatif, tetapi ternyata kelihatan sebagai foto positif, dengan demikian dapat dilihat lebih banyak hal yang sebelumnya tak terlihat oleh mata telanjang.
Setelah foto pertama itu, banyak lagi dibuat foto Kain Kafan oleh orang-orang lain juga dengan alat-alat yang semakin canggih sehingga semakin banyak detail yang dapat dilihat. Dari sana, dimulailah penelitian-penelitian seksama atas Kain Kafan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan hingga sekarang ini.

4.      Apa saja yang Ditemukan Para Ilmuwan?
Pada Kain Kafan para ahli mendapati noda-noda darah dan serum yang tidak bisa dibuat manusia. Darah adalah darah yang membeku di atas kulit seorang yang terluka, dan yang kemudian mencair kembali (= fibrinolisis) karena bersentuhan dengan kain lembab. Darah dari golongan AB; jenis golongan darah yang paling langka. Warna darah adalah merah kendati darah telah mengering, hal mana disebabkan karena Manusia Kain Kafan mati dalam penyiksaan yang hebat.
Darah Manusia Kain Kafan sama dengan darah pada Kain Peluh yang disimpan di Oviedo (Spanyol), yakni kain berukuran kurang lebih 83 x 52 cm dengan noda-noda darah sama seperti pada Kain Kafan. Menurut tradisi, Kain Peluh Oviedo yang biasa disebut Sagrado Rostro atau Wajah Kudus ini datang ke Spanyol dalam sebuah peti melalui Afrika Utara. Darah pada Sagrado Rostro memiliki golongan darah dan profil genetik yang sama dengan yang didapati pada Kain Kafan dan sama juga dengan darah pada Mukjizat Lanciano.
Gambar pada Kain Kafan merupakan foto negatif. Gambar hanya pada permukaan kain, tridimesional dan stabil secara ilmiah. Gambar didapati stabil juga dalam air, tanpa pigmen, tanpa arah, dan tidak terjadi karena tubuh bersentuhan dengan kain. Jadi, didapati juga gambar di tempat-tempat di mana kain tidak bersentuhan dengan tubuh. Hitam-putihnya gambar tergantung dari jarak dekat-jauh antara tubuh dan kain. Para ahli menyimpulkan bahwa gambar terjadi karena suatu radiasi cahaya dari tubuh itu sendiri.

5.      Ada Begitu Banyak Teori dan Hipotesa, lalu Apa yang Pasti Mengenai Kain Kafan?
Banyak ilmuwan berusaha membuat gambar yang sama seperti pada Kain kafan, bertolak dari kemungkinan bahwa Kain kafan adalah palsu atau sekedar lukisan. Dilakukan eksperimen vaporograi, kontak, atau dengan strinatura, namun tak satu eksperimen pun berhasil membuat gambar sama seperti gambar pada Kain Kafan.
Eksperimen serupa dilakukan Dr Sebastianus Rodante dengan menyemprotkan cairan kering dan darah pada wajah mayat, lalu ditutup dengan kain yang sudah dibasahi dengan cairan mur dan aloe. Gambar terjadi setelah kontak selama 36 jam. Tetapi, gas amoniak yang keluar dari mulut mayat, akibat proses pembusukan, merusakkan hasilnya. Gas amonia menyebar ke segala arah, bukan hanya ortogonal (atas bawah) seperti terjadi pada Kain kafan. Sementara pada Kain Kafan sama sekali tidak didapati adanya tanda-tanda terjadinya pembusukan.
Jadi, gambar PASTI bukan hasil alat-alat artifisial. Bukan lukisan dan bukan cetakan; sama sekali tidak didapati adanya pigmen. Bukan hasil vaporografi, yakni proses dimana campuran rempah-rempah, gaharu, serta minyak menimbulkan reaksi dengan amonia yang dikeluarkan tubuh sehingga membentuk suatu gambar pada kain. Bukan juga hasil strinatura, yakni kain ditempelkan pada patung panas, sebab gambar hasil strinatura tembus pada kain, condong hilang dan pantulan cahayanya berbeda dengan yang ada pada Kain kafan.

6.      Jadi, Kain Kafan Bukan Hasil Rekayasa Seniman Abad Pertengahan?
Pada Abad Pertengahan sama sekali tidak ada pengetahuan tentang pencambukan dan penyaliban, sebab hukuman itu sudah tidak dipakai lagi sejak akhir abad pertama. Seandainya Kain Kafan adalah hasil pemalsuan dari abad pertengahan, si jenius pemalsu tentunya tidak membuat sesuatu yang bertentangan dengan ikonografi pada masa itu, yakni: mahkota duri seperti helm, memikul patibulum (= palang, dan bukan salib), paku pada pergelangan tangan, telanjang total dan tanpa kayu penahan kaki. Mestinya juga ia memperhatikan adat pemakaman orang Yahudi pada masa Kristus.
Si pemalsu haruslah memakai mikroskop untuk menambah beberapa elemen yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti sari bunga, serum, rempah-rempah, aragonit; padahal mikroskop baru ditemukan pada akhir abad keenambelas. Ia juga harus mengenal alat foto, padahal alat foto baru ditemukan pada abad kesembilanbelas. Ia harus mengenal pula dua jenis aliran darah, vena dan arteri, yang baru dikenal pada tahun 1593, dan menodai Kain Kafan dengan dua jenis aliran darah tersebut tepat pada tempatnya. Lagi, seandainya si pemalsu memiliki segala teknologi yang disebutkan di atas, ia seharusnya juga memiliki kecakapan serta alat-alat yang diperlukan untuk membuat gambar seperti Kain Kafan. Dan si pemalsu itu, yang luar biasa jeniusnya, tidak meninggalkan bekas, atau catatan, atau sesuatu yang di kemudian hari dapat dideteksi menggunakan alat-alat canggih seperti sekarang ini.
Yang pasti adalah bahwa Kain Kafan telah dipergunakan untuk membungkus jenasah. Itu berarti, jika Kain Kafan itu hasil rekayasa, maka si pemalsu adalah seorang pembunuh. Dalam kasus ini, tingkat kesulitan akan lebih tinggi. Pikirkan: si pemalsu memakai seorang yang bentuk wajahnya sangat mirip dengan semua ikon “Wajah Kudus” yang beredar sebelumnya. Ia harus menyiksa korbannya begitu rupa demi mendapatkan luka-luka sesuai dengan ikon-ikon yang beredar. Ia harus menikam lambung korbannya dengan tombak Romawi dan membubuhkan darah dan serum. Ia harus membungkus jenasah korbannya selama kurang lebih 35 jam, tanpa membiarkannya mengalami pembusukan; hal mana sangat sulit, sebab tubuh orang yang mati karena penyiksaan akan lebih cepat membusuk. Dan akhirnya, ia harus “mengeluarkan” jenasah dari Kain Kafan tanpa mengakibatkan pergeseran dan merusak bekuan darah. Untuk ukuran saat ini saja, abad teknologi yang serba canggih, sangat sulit melakukan hal-hal seperti di atas, apalagi pada Abad Pertengahan!

7.      Bagaimana Disimpulkan bahwa Kain Kafan berasal dari Palestina?
Ada beberapa alasan yang menyebabkan para ahli menarik kesimpulan bahwa Kain Kafan berasal dari daerah Palestina:
ØCara kerja pembuatannya agak kasar: benang diputar arah Z (searah jarum jam); tenunannya 3 a 1, adanya bekas-bekas katun Mesir yang sangat kuno; tidak didapati serat binatang (wol), sesuai ketetapan hukum Yahudi yang tidak memperbolehkan mencampur benang alami dengan benang wol;
ØDidapati banyak sekali jenis sari bunga yang berasal dari Timur Tengah, di antaranya aloe (= gaharu) dan mur;
ØDidapati adanya aragonit, yaitu sejenis kalsium yang banyak ditemukan di gua-gua sekitar Yerusalem;
ØDidapati adanya bekas gambar mata uang yang diedarkan oleh Ponsius Pilatus pada tahun 29 M pada mata kanan dan kiri Manusia Kain Kafan.

8.      Bukti2 Apa Saja yang Menguatkan bahwa Kain Kafan Sungguh Digunakan untuk Membungkus Tubuh Yesus?
Terdapat banyak kecocokan sempurna antara kisah Injil Sengsara dengan apa yang ditemukan pada Kain Kafan:
*      Penderaan tersendiri, terlalu banyak deraan sebagai pendahuluan penyaliban
*      Mahkota duri, hal yang tak lazim
*      Memikul patibulum
*      Dipaku, bukan diikatkan, pada salib
*      Luka pada lambungnya dan keluarnya darah dan serum
*      Kakinya tidak dipatahkan
*      Jenasahnya tidak dimandikan sebelum dimakamkan
*      Jenasahnya dibungkus dengan Kain Kafan baru yang mahal, bukan dibuang dalam lubang umum sebagaimana lazimnya
*      Tubuhnya tidak lama tinggal dalam Kain Kafan
Mustahil ada orang lain yang mengalami hal-hal yang persis sama dengan yang dialami Yesus. Mari kita lihat satu-persatu dengan lebih seksama kesamaan antara sengsara Manusia Kain Kafan dan sengsara Yesus Kristus: 

a.       Penderaan
Pada tanggal 4 Desember 1532 terjadi kebakaran di Kapel Kastil Chambery di mana Kain Kafan disimpan. Kain Kafan selamat, tetapi terbakar di bagian pinggir lipatannya ketika reliquary perak - tempat Kain Kafan disimpan - mulai meleleh. Para suster Klaris yang diminta menambal Kain Kafan dan yang sempat mengamati gambar dengan seksama, mengatakan bahwa sekujur tubuh Manusia Kain Kafan penuh luka-luka hingga nyaris tidak ada tempat tanpa luka. Sekarang, berkat penelitian dan peralatan canggih dapat direkonstruksi bagaimana penderaan yang diderita Manusia Kain Kafan.
*      Manusia Kain Kafan menanggung lebih dari 120 deraan, sementara hukum Yahudi memperbolehkan hanya 40 dikurangi satu deraan. Berarti hukuman dilakukan menurut hukum Romawi yang tidak membatasi jumlah deraan.
*      Setiap deraan dilakukan secara sistematis, bukan sembarangan, berarti dilakukan oleh orang-orang yang profesional.
*      Cambuk yang digunakan dilengkapi dengan dua bulatan timah atau tulang pada ujungnya.
*      Manusia Kain Kafan didera dalam keadaan telanjang, kelihatan bekasnya di mana-mana di sekujur tubuh, dalam posisi terikat dan membungkuk. Ia didera sebelum memikul salib, berarti hukuman penderaan merupakan hukuman tersendiri. Barulah kemudian ia memikul palang salib (= patibulum) seperti terlihat dari luka-luka memar pada pundaknya di atas luka cambuk.

b.      Mahkota Duri

Terdapat banyak luka tusukan akibat mahkota duri pada kepala Manusia Kain Kafan. Mahkota ini bukan terdiri dari satu atau dua lingkaran, melainkan lebih merupakan suatu mahkota berbentuk helm yang menutup seluruh kepala. Mahkota duri seperti tampak pada gambar atau patung yang banyak beredar sekarang adalah hasil devosi dan gaya lukis artis Eropa abad pertengahan.
Kepala, baik `kiri maupun kanan' menderita lebih dari 50 tusukan duri. Duri-duri itu menembusi juga beberapa pembuluh darah, vena dan arteri, seperti terlihat dari jenis darah yang membasahi seluruh kepala Manusia Kain Kafan. Ada dua noda darah akibat tusukan duri yang perlu kita beri perhatian secara khusus: Pertama, darah berbentuk angka tiga yang mengalir dari dahi Manusia Kain Kafan. Darah itu adalah jenis darah vena yang memancar dari pembuluh vena di dahi; berbentuk demikian sebab terhalang oleh kerut dahi akibat menahan rasa sakit karena tusukan duri. Yang Kedua adalah darah yang mengalir di bagian kanan atas kepala Manusia Kain Kafan. Darah itu memancar dari pembuluh arteri, dan karena tekanan yang kuat, maka mengalir lebih jauh.
Permasalahannya adalah: adanya dua jenis tekanan darah pada manusia, yakni vena dan arteri, baru ditemukan pada tahun 1595 oleh Andrea Cesalpino. Seandainya Kain Kafan adalah hasil rekayasa manusia abad ke-13, bagaimana mungkin si pemalsu bisa menempatkan kedua jenis darah itu tepat pada tempatnya, padahal ia tidak mengenal tekanan darah vena dan arteri?

c.       Manusia Kain Kafan Memikul Patibulum
Sebagian besar lukisan Yesus memikul salib menggambarkan salib yang lengkap, dengan tiang dan palang. Lukisan macam itu merupakan hasil devosi dan bukan berdasarkan pengetahuan ilmiah. Dari penelitian cermat atas Kain Kafan, terlihat dua luka memar pada punggung Manusia Kain Kafan; yang kiri lebih rendah dari yang kanan. Seandainya ia memikul seluruh salib, luka akan terjadi di bagian atas bahu, dan bukan pada punggung. Mengingat si terhukum harus berjalan ke tempat eksekusi, maka bisa dipastikan bahwa kedua luka memar adalah akibat gesekan punggung dengan kayu patibulum.

d.      Luka-luka pada Lutut
Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, Kalvari, apabila pesakitan yang hendak disalibkan lebih dari satu orang, maka mereka akan diikatkan satu dengan yang lain agar tak dapat melarikan diri. Manusia Kain Kafan berjalan tertatih-tatih, sebab ia telah begitu lemah akibat penderaan, pemahkotaan duri, serta segala perlakuan kasar dan brutal yang dideritanya seperti terlihat jelas dalam Kain Kafan. Ditambah lagi, posisinya berada di urutan paling belakang dalam iring-iringan ketiga orang yang dijatuhi hukuman mati, membuat ia rentan jatuh berkali-kali dengan lutut dan wajahnya menghantam batu jalanan yang keras. Pada Kain Kafan ditemukan banyak “tanah lumpur” pada lutut, hidung dan tumit, jelas akibat benturan dengan batu jalanan.

e.       Wajah Manusia Kain Kafan
Wajah Manusia Kain Kafan merupakan bagian tubuh yang paling dahsyat mengalami kerusakan. Tetapi wajah itu tetap memancarkan cahaya keagungan; sedih namun tetap tenang. Bukan seperti wajah orang yang telah mengalami sekian banyak penyiksaan.
Pada wajah Manusia Kain Kafan nampak sangat jelas akibat dari bermacam-macam siksaan, di antaranya:
*      Dipukul dengan tongkat kayu; lihat pipi kanan dan hidung
*      Mata kiri tertutup darah; darah juga terdapat pada mata kanan
*      Memar pada tulang pipi
*      Darah memancar dari hidung
*      Memar pada kelopak mata kiri dan kanan
*      Darah memancar dari bawah bibir atas
Setelah mengetahui apa yang terjadi pada wajah Manusia Kain Kafan, kita jadi lebih mudah memahami mengapa tradisi devosi Kristiani menempatkan seorang perempuan di jalan salib, Veronica, yang mengusap Wajah Kudus Yesus! Perhentian Jalan Salib ke-VI mencoba mengungkapkan justru devosi, hormat dan cinta terhadap Wajah Kudus itu.

f.        Luka pada Tangan dan Kaki
Manusia Kain Kafan memperlihatkan tangan yang bersilang, tangan kiri di atas tangan kanan, sehingga kita bisa melihat luka paku hanya pada tangan kiri. Dari luka ini para ahli berkesimpulan bahwa paku menembusi pergelangan tangan di tempat yang disebut Destot. Dari luka pada pergelangan tangan ini terpancar tiga aliran darah: dua aliran langsung ke pinggir dan jatuh ke tanah, sementara satu aliran sampai ke siku.
Arah aliran darah yang berbeda ini bisa dijelaskan sebagai berikut: Manusia Kain Kafan dipaku tangannya dalam posisi berbaring di tanah pada patibulum, kemudian diangkat ke atas stipes (= tiang) sehingga posisi tangan berubah dari horisontal menjadi vertikal. Tangan kanan terlihat lebih tersiksa dari tangan kiri. Punggung tangan kelihatan rusak akibat gesekan dengan kayu. Pada tangannya tidak terlihat ibujari sebab ibujari tertekuk ke dalam akibat tarikan paku di pergelangan tangan.
Kaki kiri Manusia Kain Kafan tampak lebih pendek dari kaki kanan. Hal ini disebabkan kaki kiri ditempatkan di atas kaki kanan dalam penyaliban. Karena Manusia Kain Kafan menjadi kaku setelah kematiannya, maka kaki kiri tetap kelihatan lebih pendek.

g.       Sakrat Maut dan Wafat di Salib
Biasanya orang yang disalibkan mati setelah mengalami sakrat maut yang panjang. Bapa Gereja Origenes mengatakan bahwa orang yang disalibkan bertahan “satu malam dan hari berikutnya.” Tetapi Yesus bertahan cuma beberapa jam saja. Apakah yang mengakibatkan-Nya wafat begitu cepat?

Beberapa hipotesa:
a)      Asfissia: Manusia Kain Kafan tak dapat bernafas dalam posisi tergantung di atas salib seperti itu sehingga mengalami kejang otot dan akhirnya mati.
b)      Kolaps ortostatik: yaitu tensi tiba-tiba turun, mengakibatkan kondisi tak sadar hingga koma dan mati.
c)      Emotoraks: karena benturan keras pada dada (akibat jatuh) maka terjadi pendarahan pada paru-paru. Darah yang keluar dari luka-luka dalam itu terkumpul dalam pleura (kantung pembungkus paru-paru). Akibat terlalu banyak darah yang terkumpul di sana, Manusia Kafan tak dapat bernafas dan akhirnya mati.
d)      Jantung pecah: sekarang sebagian besar para ahli yang mempelajari fenomena kematian Manusia Kain Kafan, dengan mempertimbangkan sebab-sebab intern dan ekstern Manusia Kain Kafan selama sengsara, berkesimpulan bahwa kematian terjadi akibat jantung pecah diikuti pendarahan cukup besar pada emoperikardium, yaitu kantong elastis yang membungkus jantung.
Mereka mengajukan bukti-bukti sebagai berikut:
ü      Seruan nyaring yang keluar dari tenggorokannya sebelum wafat, “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya” (Markus 15:37)
ü      Kematian-Nya yang cepat mengherankan Pilatus: “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati” (Markus 15:44)
ü      Noda darah dan air dari luka lambung.
ü      “Segera mengalir keluar darah dan air” (Yohanes 19:34); banyaknya darah dan air yang menyembur dari luka merupakan suatu hal yang aneh bagi orang yang sudah mati dan sudah kehilangan banyak darah.
Penjelasan Lanjut mengenai teori ini:
Orang yang mati karena jantung pecah diikuti emoperikardium akan berseru kesakitan sebelum mati; perikardiumnya dipenuhi darah hingga lebih dari satu liter. Jika orang yang mati demikian dibiarkan selama satu setengah atau dua jam dalam posisi vertikal, maka darah dalam perikardium akan terpisah menjadi dua bagian: yang merah di bagian bawah dan yang putih / kuning di bagian atas. Jika perikardium ditusuk, maka akan segera menyembur keluarlah isinya: darah dan air, yang dilihat oleh Yohanes.
e)      “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri” (Yohanes 10:17-18). Alasan yang paling cocok dengan Injil dan seluruh rencana Allah adalah bahwa Yesus wafat karena Ia Sendiri menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya. Sebab Ia datang untuk menyerahkan Diri-Nya karena cinta-Nya kepada manusia.

h.       Luka pada Lambung
Pada lambung kanan kita melihat sebuah luka terbuka; luka itu ternganga, artinya luka terjadi setelah orangnya mati. Luka itu panjangnya 4,5 cm, lebarnya 1,5 cm, dan dalamnya diperkirakan 5 atau 6 cm. Luka terjadi karena tombak, yang membuat luka itu masuk dari bawah ke atas dan menembusi perikardium sehingga “darah dan air” tersembur keluar. Semua yang dialami Manusia Kain Kafan, seperti tergambar pada Kain Kafan, kelihatan cocok sempurna dengan apa yang dialami Yesus seperti dicatat dalam Injil.

9.      Adakah Penemuan-penemuan Terbaru?
Dr John Jackson dan Eric Jumper menemukan bahwa gambar Kain Kafan merupakan foto tiga dimensi. Di samping itu, mereka menegaskan beberapa hal berikut:
ü      Gambar terjadi karena “bulu” Kain Kafan berubah warna. Di mana gambar lebih hitam, di situ didapati lebih banyak bulu berubah warna. Perubahan warna terjadi karena bulu mengalami dehidrasi (= kehilangan air)
ü      Gambar adalah proyeksi vertikal pada meja horizontal
ü      Tidak ada gambar kiri-kanan, sedangkan ada noda darah samping
ü      Di bawah noda darah tidak didapati gambar. Artinya: darah melekat terlebih dahulu, sehingga menghalangi gambar terjadi di bawahnya.

10.  Apa yang Masih Belum Diketahui Mengenai Kain Kafan?
Pada Kain Kafan tidak didapati adanya tanda-tanda pembusukan, berarti Manusia Kain Kafan hanya tinggal dalam Kain Kafan sekitar 30-36 jam. Tidak didapati tanda-tanda adanya pergeseran tubuh dalam Kain Kafan; tubuh seperti lenyap begitu saja dari Kain Kafan. Gambar terjadi karena suatu pancaran cahaya. Sebagian orang mengaitkan pancaran cahaya ini dengan peristiwa kebangkitan. Yang belum diketahui adalah mekanisme fisik-kimia yang menyebabkan terjadinya gambar, yakni pancaran sinar yang tidak menembus kain, yang semakin berkurang apabila semakin jauh dari sumber.

Beberapa Catatan Khusus:
1)      Manusia Kain Kafan dimakamkan secara layak dan pantas, sesuatu yang tak lazim bagi seorang yang dihukum mati disalib.
2)      Manusia Kain Kafan tidak dimandikan.
3)      Hanya orang kaya atau terpandang saja yang dapat menghadap penguasa meminta jenasah orang yang dihukum mati. Itulah Yosef dari Arimatea yang berani menghadap Pilatus, meminta jenasah Yesus, dan memakamkan-Nya secara pantas.
4)      Manusia Kain Kafan tinggal hanya beberapa jam saja dalam makam, antara duapuluh sampai tigapuluh jam. Lebih lama dari tenggang waktu itu, pastilah jenasahnya sudah mulai mengalami proses pembusukan, sementara tidak didapati tanda-tanda pembusukan pada Kain Kafan.
5)      Jenasah terpisah dari Kain Kafan secara istimewa atau luar biasa, sebab Kain Kafan pastilah melekat pada seluruh tubuh orang yang dibungkusnya, namun demikian tidak didapati adanya tanda-tanda jenasah dikeluarkan atau digeser pada Kain Kafan.
6)      Kain Kafan disimpan orang kendati berlumuran darah. Hal ini secara historis tak dapat dimengerti, sebab bagi orang Yahudi, menyentuh makam atau benda-benda dalam makam menajiskan orang. Di samping itu, mengambil barang dari makam, selain menajiskan, juga diancam hukuman mati. Pastilah ada suatu alasan yang sungguh luar biasa, sehingga orang menyimpan Kain Kafan.

KESIMPULAN
Secondo Pia, fotografer yang pertama kali memotret Kain Kafan, membangkitkan amat banyak reaksi, terutama di kalangan para ilmuwan. Para ahli ini telah mendekati Kain Kafan terdorong keinginan untuk menyingkapkan misterinya. Dan justru pada abad teknologi ini, tersedianya peralatan-peralatan paling canggih memungkinkan manusia datang mempelajari misteri Kain Kafan dengan terlebih cermat dan seksama. Yesus menyapa setiap orang melalui “foto negatif Diri-Nya” yang ditinggalkan-Nya sebagai tanda kasih bagi kita, dengan berkata “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:27).
Puluhan sektor ilmu pengetahuan telah mempelajari Kain Kafan. Anehnya, semakin dipelajari dan diselidiki oleh semakin banyak orang dengan berbagai ragam bentuk metode yang dilakukan justru dalam upaya untuk menyangkalnya, semakin terbuktilah kesesuaiannya dengan apa yang dicatat dalam Kitab Suci. Bapa Suci Paus Paulus VI mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan “satu ikon Sengsara Yesus.” Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan Injil Kelima, sebab di sana “tertulis” dalam gambar-gambar yang sangat hidup seluruh pengalaman sengsara Yesus.
Orang-orang pertama yang menyangkal keaslian Kain Kafan adalah justru orang-orang Katolik. Tetapi, telah bangkit menentang mereka, banyak ilmuwan dari berbagai aliran kepercayaan dan ilmu pengetahuan. Lihat saja Ives Delage (agnostik); Max Frei (protestan); Adler (Yahudi); Pellicori (agnostik); Vernon Miller (mormon). Mereka ini semua yang telah mendekati Kain Kafan lebih sebagai peninggalan sejarah daripada reliqui, dan mempelajarinya dengan berbagai metode dan teknik yang berbeda, telah menyatakan bahwa Kain Kafan adalah asli. Pada tahap ini, kekaguman para ilmuwan haruslah diganti dengan kekaguman iman. Tidaklah cukup membuat daftar tanda-tanda sengsara seperti yang tergambar pada Kain Kafan; tidaklah cukup mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar Yesus dari Nazaret. Tetapi, lebih jauh, semuanya itu hendaknyalah menghantar kita pada iman yang lebih mendalam kepada Dia, Yesus Kristus yang kita imani, yaitu Dia yang telah menderita sengsara, wafat dan bangkit demi menebus umat manusia.

sumber : “Seminar Kain Kafan” oleh Pastor Gabriele Antonelli, CP.Lic.Thel.

Jumat, 25 Februari 2011

JODOH: Di Tangan TUHAN atau Manusia?


JODOH: Di Tangan Tuhan atau Manusia?
(Analisa Theologis dan Biblika Terhadap Masalah Pasangan Hidup)
 

PENDAHULUAN
Problematika mengenai jodoh atau pasangan hidup bukanlah perkara mudah untuk dipecahkan. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya, tetapi akhirnya bercerai juga dengan alasan tidak cocok. Mengapa tidak cocok? Mengapa pada saat mengenal dan berpacaran, mereka tidak saling mengenal sungguh-sungguh? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, salah satunya, yaitu: kalau waktu berpacaran, kebiasaan negatif tidak ditunjukkan, sedangkan waktu menikah, segala sesuatunya tampak nyata. Ketidakcocokan yang terjadi ini sering kali mengakibatkan seseorang frustasi lalu mengatakan bahwa jodohnya dahulu bukan dari Tuhan. Benarkah jodoh di tangan Tuhan ataukah di tangan manusia mutlak ataukah dua-duanya? Ada beragam pandangan mengenai hal ini yang disertai dengan presuposisi dan akibat konsep-konsep tersebut. Selanjutnya, kita akan mengkritisinya dari perspektif Alkitab dan menunjukkan bahwa pasangan hidup itu sebenarnya dipimpin oleh Allah dan tetap dipertanggungjawabkan oleh manusia.

JODOH DI TANGAN TUHAN
Pertama, jodoh di tangan Tuhan. Ada orang Kristen yang berpandangan bahwa jodoh di tangan Tuhan.

Presuposisi
Apa yang melatarbelakangi pemikiran ini? Konsep ini didasari oleh pemikiran theologi Reformed bahwa apa pun di dunia ada dalam pemeliharaan (providensia) Allah. Allah adalah Allah yang memelihara segala sesuatu. Itulah wujud kedaulatan Allah. Jika Ia berdaulat atas segala sesuatu, mengapa untuk masalah jodoh dikecualikan dari kedaulatan Allah? Meskipun ajaran ini benar, tetapi penganut konsep pertama ini mengekstremkannya. Jika ditelusuri, konsep ini mirip dengan pandangan Hiper-Calvinisme (http://en.wikipedia.org/wiki/Hyper-Calvinism) yang meniadakan konsep tanggung jawab manusia dan terlalu menekankan kedaulatan Allah. Tidak heran, juga seorang Hiper-Calvinis tulen akan “konsisten” menjalankan konsepnya baik di dalam doktrin maupun aplikasi hidup, meskipun bertentangan dengan ajaran Alkitab. Seorang Hiper-Calvinis yang tidak mempercayai tanggung jawab manusia akan malas memberitakan Injil (karena bagi mereka sudah ada predestinasi dari Allah, buat apa memberitakan Injil) dan juga malas mencari pasangan hidup sendiri.
Presuposisi kedua yang melatarbelakangi konsep ini adalah konsep “cuek.” Ini yang lebih parah. Orang yang mengatakan bahwa jodoh di tangan Tuhan dilatarbelakangi oleh kecuekan dirinya memikirkan tentang pasangan hidup. Artinya, mereka malas mencari sendiri pasangan hidup, lalu menyerahkan tanggung jawabnya ini kepada Tuhan Allah.

Akibat dan Analisa Theologis (dan Filosofis)
Lalu, apa akibat konsep ini? Konsep ini mengakibatkan seseorang di titik pertama tidak bertanggungjawab mencari pasangan hidupnya yang beres sesuai kriteria Alkitab. Kalau orang ini seorang cowok, ia akan menunggu sampai cewek itu yang memberi respons kepada si cowok. Setelah bertemu dengan pasangan hidup yang cocok tersebut, orang ini berpacaran dan menikah, karena ia menganggap itu adalah jodohnya. Tetapi sayangnya, setelah menikah beberapa bulan bahkan tahun, mereka bercerai, lalu dengan mudahnya mengatakan bahwa pasangannya dahulu bukan jodohnya. Kemudian, ia akan marah kepada Tuhan dan menyalahkan-Nya. Logika ini sungguh lucu. Jadi, para penganut konsep ini hendak mengatakan bahwa jodohnya itu mutlak di tangan Tuhan (dan manusia tidak bertanggungjawab sama sekali), lalu setelah mereka bertemu dengan jodohnya, namun tidak cocok bahkan bercerai, yang disalahkan adalah Allah! Padahal Alkitab mengajarkan kita untuk mencari pasangan hidup yang seiman dan sepadan.

JODOH DI TANGAN MANUSIA
Kedua, jodoh di tangan manusia. Ini adalah satu konsep yang melawan konsep pertama. Dengan kata lain, orang yang memegang konsep ini sebenarnya sedang berpikir either…or (kalau tidak ini, ya yang satunya).

Presuposisi
Apa yang melatarbelakangi konsep ini? Konsep ini didasari oleh suatu kehendak diri yang ingin meniadakan Allah di dalam masalah pasangan hidup. Orang yang memegang konsep ini adalah orang yang berpikir bahwa Allah tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah pasangan hidup, lalu ia mengatakan bahwa biarlah ia sendiri yang bertanggungjawab mencari pasangan hidup. Konsep ini sebenarnya mirip dengan konsep dualisme iman-ilmu yang memisahkan secara tajam antara iman Kristen dan integrasinya di dalam kehidupan sehari-hari. Bagi para dualis ini, Allah tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari dan Ia hanya ada (berkuasa) di lingkungan gereja saja.
Lebih celakanya, ada yang mengatakan bahwa manusia bertanggungjawab mencari dan memilih pasangan hidup, nanti Tuhan tinggal merestuinya. Orang ini mengatakan bahwa pada saat memilih pasangan hidup ini pun ada di dalam pemeliharaan Allah. Benarkah konsep ini? Bukankah konsep ini hendak menurunkan derajat Allah hanya sebagai Pribadi yang melegitimasi apa yang kita pilih atau lebih ekstremnya hendak mengatakan Allah sebagai pembantu kita? Konsep ini tidak ada bedanya dengan konsep beberapa (atau bahkan banyak) ajaran Karismatik yang mengajarkan bahwa kita minta apa saja, Tuhan tinggal dan pasti mengabulkan. Lebih tajam lagi, ini adalah konsep Arminian yang menekankan tanggung jawab manusia melebihi kedaulatan Allah. Bagi seorang Arminian, dirinya bertobat, meskipun adalah anugerah Allah, tetap adalah jasa manusia. Bagi seorang Arminian juga, keselamatan bisa hilang, karena orang “Kristen” murtad dan Allah tidak berdaya apa pun. Sungguh mengasihankan “Allah” seperti ini, “Allah” yang kalah dengan kehebatan manusia.
Terakhir, lebih celaka lagi, jika konsep ini diajarkan oleh orangtua yang mengklaim diri “Kristen” kepada anak-anak mereka di dalam memilih jodoh. Artinya, orangtua “Kristen” bisa mengajar atau bahkan menyetujui konsep bahwa jodoh di tangan manusia, karena di titik pertama, mereka hendak mematok standar tertentu bagi calon pasangan anaknya. Memang baik (Pdt. Sutjipto Subeno pernah mengatakan bahwa baik belum tentu benar) jika ada orangtua yang menetapkan (lebih tepatnya: memberikan saran/menyarankan) kriteria-kriteria yang baik bagi pasangan anak mereka, tetapi penetapan itu BUKANlah penetapan mutlak seperti penetapan Allah! Barangsiapa yang memutlakkan standar tertentu, ia hendak menyamakan dirinya dengan Allah, dan itu adalah dosa. Mengapa? Karena dosa bukan dimengerti secara fenomena, misalnya: membunuh, mencuri, dll, tetapi dosa adalah melawan Allah atau lebih tepatnya mengutip perkataan Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of the Faith (1955), dosa adalah inisiatif manusia menggantikan standar nilai Allah dengan standar nilai diri mereka yang berdosa untuk menafsirkan segala sesuatu. (hlm. 15) Jika ada orangtua “Kristen” lalu dengan cepat menyetujui konsep bahwa jodoh itu di tangan manusia, berhati-hatilah! Jika mereka sampai menyetujui konsep ini dengan cepat (tanpa pikir panjang), dapat dipastikan bahwa mereka sebenarnya hendak membuang standar Allah dan menetapkan standar orangtua secara mutlak bagi pasangan anak mereka, meskipun ada yang secara mulut (bahasa Jawanya: mbasahi lambe—tanda orang yang tidak pernah tulus jika berkata apa pun) mengakui partisipasi Tuhan di dalamnya. Itulah dosa!

Akibat dan Analisa Theologis (dan Filosofis)
Lalu, apa akibatnya?
Pertama, orang yang memegang konsep ini secara konsisten akan memilih pasangan hidupnya sendiri yang diklaim “sesuai prinsip Alkitab”, tetapi sayangnya tidak meminta pimpinan Tuhan di dalamnya. Mengapa? Karena orang ini akan takut dan kuatir (bahkan mungkin saja bisa marah) jika sampai Allah mengatakan TIDAK atas pilihannya. Sebenarnya, problem utama penganut konsep ini adalah orang ini tidak mau diganggu (bahkan oleh Allah sendiri) ketika memilih pasangan hidup. Jika si cowok mengatakan bahwa dirinya cocok dengan seorang cewek dan begitu juga sebaliknya, mereka akan langsung berpacaran dan menikah. Padahal mungkin sekali di mata Allah, mereka tidak cocok secara esensi, karena apa yang kita pandang dan anggap baik, belum tentu dipandang dan dianggap baik dan benar oleh Allah!
Kedua, orang lain (dalam hal ini, khususnya orangtua) ikut menentukan standar memilih pasangan hidup. Karena memegang dengan teguh konsep bahwa jodoh di tangan manusia, ada beberapa orangtua “Kristen” yang ikut-ikutan menentukan jodoh/pasangan hidup anaknya. Ketika disebut seperti ini, spontan saja, orangtua “Kristen” ini tidak mau dikatakan “menentukan” pasangan hidup anaknya, tetapi “menyarankan.” Jika mau ditelusuri lebih tajam, apa bedanya “menyarankan” dengan “menentukan/memaksa”? Dua kata ini jelas berbeda, tetapi berusaha dikaburkan oleh orang postmodern ini. “Menyarankan” berarti orangtua “Kristen” ini hanya memberi saran yang baik kepada anaknya tentang kriteria pasangan hidup yang berkaitan dengan pandangan-pandangan umum (respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah yang berupa: kebudayaan dan ilmu/sains). Hasil akhirnya BUKAN lagi ada pada orangtua ini, tetapi pada kebebasan anaknya yang bertanggungjawab untuk memilih atau menolak beberapa atau semua konsep orangtuanya sesuai dengan prinsip respons manusia terhadap wahyu umum Allah dan wahyu khusus Allah, yaitu: ALKITAB! Sedangkan “menentukan/memaksa” berarti orangtua bukan hanya memberi saran, tetapi ikut menilai calon pasangan hidup anaknya, meskipun penilaian ini pun kadang-kadang sangat fenomenal dan tidak bertanggungjawab sama sekali. Misalnya, ada orangtua “kristen” tetapi masih mempercayai shio sebagai standar menentukan/ memaksa anaknya dalam memilih pasangan hidupnya (meskipun katanya, ini hanya lelucon, tetapi bagi saya, ini adalah lelucon yang tidak berarti sama sekali). Contoh, ketika sang anak mengetahui bahwa pasangan hidupnya shio kuda, maka dengan cepat, sang orangtua ini mengatakan bahwa orang yang shionya kuda itu keras, dll. Bukankah ini adalah suatu kelucuan yang tidak masuk akal, bodoh, dan menghina Allah sendiri ketika ada orang (bahkan menyebut diri “Kristen”) yang mengukur orang lain dari shio yang dilambangkan dengan binatang?! Jika ada orangtua “Kristen” yang sampai menentukan pasangan hidup bagi anaknya, biarlah dirinya sendirilah yang menikah, bukan anaknya!

JODOH: DIPIMPIN TUHAN DAN DIPERTANGGUNGJAWABKAN OLEH MANUSIA
Jika konsep pertama dan kedua adalah konsep yang tidak menyeluruh dan tidak seimbang, maka bagaimana pandangan Alkitab yang konsisten tentang jodoh? Benarkah jodoh itu mutlak di tangan Tuhan atau mutlak merupakan tanggung jawab manusia? Secara konsisten dengan Alkitab dalam perspektif yang seimbang dan menyeluruh, maka konsep yang benar mengenai jodoh bahwa jodoh itu dipimpin oleh Tuhan dan tetap dipertanggungjawabkan oleh manusia.

Presuposisi
Apa dasar pikir dari konsep terakhir ini? Konsep ini didasarkan pada berita Alkitab mengenai penciptaan manusia. Mari kita analisa secara cermat. Setelah menciptakan segala sesuatunya selama 5 hari, maka Allah menciptakan manusia di hari ke-6 (Kej. 1:26-27). Di situ, dengan jelas, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan menurut gambar-Nya. Lalu, Allah memberkati ciptaan itu dan menyebutnya sungguh amat baik (Kej. 1:31). Kemudian, Ia menyadari bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, maka Ia akan menjadikan seorang penolong yang sepadan dengan dia—Adam (Kej. 2:18). Ayat ini dilanjutkan dengan ayat 19 yang mengatakan bahwa Allah membawa semua binatang hutan dan burung kepada manusia untuk melihat, lalu Adam memberi nama kepada semua binatang. Setelah mengamat-amati ciptaan Tuhan (binatang) itu, maka Adam menyadari bahwa tidak ada penolong yang sepadan dengan dia, maka di ayat 21, Allah menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan dengan Adam. Dari kisah ini, apa yang bisa kita pelajari? Ada yang menafsirkan bahwa kisah ini merupakan bukti bahwa jodoh merupakan tanggung jawab manusia. Konsep ini diajarkan karena si penafsir hanya membaca ayat 19-20. Meskipun tidak sepenuhnya salah, konsep ini tetap kurang tepat. Mari kita analisa.
Pertama, kisah ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa pria dan wanita adalah sama-sama ciptaan Allah. Karena merupakan ciptaan Allah, maka tentu saja natur mereka ditentukan BUKAN oleh mereka sendiri atau ilmu-ilmu yang manusia ciptakan, tetapi oleh Allah sebagai Pencipta mereka. Sungguh suatu ketidakmasukakalan jika ingin mengetahui natur manusia dari manusia dan ilmu-ilmu yang diciptakan oleh manusia berdosa! Allah yang menciptakan mereka adalah Allah yang menetapkan natur bagi mereka. Allah yang sama juga adalah Allah yang mengerti totalitas manusia yang diciptakan-Nya, entah itu karakter, dll. Di dalam karya penebusan dan pengudusan terus-menerus, Allah yang sama, yaitu Roh Kudus yang memurnikan iman, karakter, dan spiritualitas anak-anak-Nya agar kita makin serupa dengan Kristus, Kakak Sulung kita. Kembali, Allah ikut terlibat di dalam setiap inci kehidupan kita. Dari konsep ini, kita bisa belajar bahwa jodoh BUKAN hanya merupakan tanggung jawab manusia yang lepas dari pimpinan Tuhan! Bagaimana dengan integrasi keduanya, yaitu kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia? Kita akan membahasnya di poin kedua.
Kedua, jika kita membaca dengan jelas Kejadian 2:18-25, kita akan melihat dengan jelas bahwa di titik pertama, di ayat 18, Allah sudah mengetahui bahwa Adam tidak bisa hidup sendiri tanpa seorang penolong yang sepadan dengan dia. Allah tentu SUDAH mengetahui bahwa penolong yang sepadan tentu bukanlah binatang, tumbuhan, dll, tetapi manusia. Lalu, mengapa di ayat 19-20, Ia membawa binatang kepada manusia untuk dinamai, lalu manusia mengatakan bahwa itu semua tidak sepadan dengan dia? Apakah Allah ingin bermain-main dengan manusia? Ataukah Allah tidak tahu dan spontan “kaget” kalau apa yang dikatakan manusia di ayat 19-20 itu bertolak belakang dengan rencana-Nya? TIDAK! Allah sudah mengetahui segala sesuatu karena Ia adalah Allah. Tetapi, Allah yang Mahatahu tidak mematikan tanggung jawab manusia! Sehingga, meskipun Allah tahu, Ia tetap menuntut pertanggungjawaban manusia. Saya berani menafsirkan bahwa pertanggungjawaban manusia sebagai umat pilihan-Nya ini adalah reaksi terhadap anugerah Allah. Alkitab mengajar dua paradoks ini, meskipun rasio manusia tidak akan pernah mengerti semuanya secara sempurna.
Di dalam Alkitab, itu semua menjadi satu. Dari sini, kita pun belajar juga bahwa seluruh aspek kehidupan manusia juga ada di dalam rencana Allah yang berdaulat dan tetap menuntut pertanggungjawaban manusia. Contoh, tentang kebiasaan atau tindakan buruk yang kita lakukan. Kita sering terlambat mengajar atau pergi kuliah, lalu jangan memakai dan memberikan alasan kepada anak didik atau dosen bahwa keterlambatan kita pun ditetapkan oleh Allah! Itu dosa, karena melemparkan tanggung jawab kita kepada Allah. Memang, Tuhan mengetahui keterlambatan kita dan mungkin sekali Tuhan mengizinkan hal itu terjadi supaya kita belajar sesuatu, tetapi tidak berarti, Tuhan yang harus dipersalahkan ketika kita terlambat. Keterlambatan kita TETAP adalah tanggung jawab kita. Tuhan hanya mengizinkannya terjadi (tidak berarti Ia menetapkan)! Kalau kita terapkan konsep ini di dalam konsep tentang jodoh, maka kita akan mengerti dua hal:
Pertama, Allah memberikan kepada kita pasangan hidup yang tepat. Sebagai umat pilihan-Nya, kita harus mengetahui bahwa segala sesuatu ada di dalam rencana kekal Allah yang berdaulat, termasuk jodoh kita pun, karena Ia yang menciptakan dan memelihara kita, tentulah Ia yang sama mengenal pribadi kita jauh lebih dalam daripada kita atau orangtua atau siapa pun yang mengenal kita (mengutip perkataan seorang hamba Tuhan di dalam sebuah acara tanya jawab di sebuah siaran radio rohani di Surabaya). Karena Ia telah mengenal kita, Ia akan memberikan kepada kita penolong yang sepadan dengan kita. Penolong yang sepadan itu adalah penolong yang saling melengkapi kita untuk saling bertumbuh di dalam Kristus. Saling melengkapi ini TIDAK harus diterjemahkan bahwa kita harus memberi (altruistik) kepada pasangan kita. Saling melengkapi juga bisa berarti saling belajar satu sama lain. Mengapa? Karena ketika kita hidup di dunia tidak ada yang namanya orang sempurna yang hanya bisa memberi, tanpa mau belajar dari orang lain. Kita semua sebagai anak-anak-Nya harus terus bertumbuh di dalam Kebenaran Firman menuju ke arah kesempurnaan di dalam Kristus, Kakak Sulung kita. Perhatikanlah, orang yang terus menekankan (dan mendengarkan) pengajaran bahwa kita harus saling memberi tanpa mau saling belajar adalah orang yang sombong dan egois, suka mencari kejelekan dan kelemahan orang lain, tetapi ketika dirinya ditegur, dia akan memakai segudang argumentasi (bahkan argumentasi “theologis” dan filosofis) untuk menutupi kelemahannya. Ya, itulah realitas manusia berdosa: suka melihat kejelekan orang lain, tetapi tidak suka kejelekannya dinyatakan. Sudah saatnya, orang Kristen sejati yang beres tidak meniru logika orang dunia yang berdosa, tetapi kembali kepada Kristus, siap dan rendah hati menerima teguran dari orang lain yang membangun.
Kedua, Allah memimpin kita di dalam memilih pasangan hidup yang telah Ia tetapkan. Kembali, setelah kita mengerti bahwa Ia yang mencipta kita dan Ia akan memberikan kepada kita penolong yang sepadan, lalu, apakah berarti kita diam saja tidak berbuat apa-apa dalam memilih jodoh? TIDAK! Ingatlah, kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Meskipun Ia telah mengetahui dengan siapa kita berjodoh, Ia tidak mematikan tanggung jawab manusia. Malahan Ia berpartisipasi aktif memimpin kita di dalam memilih pasangan hidup yang telah ditetapkan-Nya. Bukan tugas kita untuk menghakimi standar penilaian-Nya atas pasangan hidup kita, tetapi yang diperlukan oleh seorang anak Tuhan sejati adalah percaya dan taat mutlak akan pimpinan Tuhan di dalamnya. Saya pernah bertanya langsung tentang masalah pasangan hidup ini kepada Prof. John M. Frame, D.D. melalui Facebook dan beliau menjawab pertanyaan saya dengan jawaban sebagai berikut:
Certainly God predestines everything that happens (Eph. 1:11), including who we love and marry. Some people believe that each of us has a "soulmate," a kind of ideal marriage partner. I don't know that that is true. Since this is a fallen world, I think all people have problems, and therefore no relationship or marriage can ever be problem-free. But of course some people make better marriage partners than others, and single people should pray that God will lead them to a person who can complement them and lead them to fulfill their God-given potential. That means that marriage is a human choice, and we should make it wisely. It is a choice predestined by God, but that does not detract from the importance of our choice. God's sovereignty and man's responsibility do not compromise one another, according to Scripture. (=Tentu saja Allah mempredestinasikan segala sesuatu yang terjadi (Ef. 1:11), termasuk kepada siapa kita mencintai dan menikah. Beberapa orang percaya bahwa setiap kita memiki seorang “pasangan hidup,” semacam pasangan pernikahan yang ideal. Saya tidak tahu bahwa itu benar. Karena dunia ini adalah dunia berdosa, saya pikir semua orang memiliki masalah-masalah, dan oleh karena itu tidak ada hubungan lawan jenis atau pernikahan yang bisa bebas dari masalah. Tetapi tentu saja beberapa orang memilih pasangan hidup yang lebih baik dari orang lain, dan orang yang masih lajang harus berdoa supaya Allah memimpin mereka kepada orang yang sepadan dengan dia dan memimpin mereka menggenapi potensi yang Allah berikan kepada mereka. Itu berarti bahwa pernikahan itu adalah pilihan manusia, dan kita harus mengusahakannya dengan bijaksana. Itu adalah pilihan yang dipredestinasikan oleh Allah, tetapi itu tidak mengurangi pentingnya pilihan kita. Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia tidak dapat berkompromi satu dengan yang lain, sesuai dengan Alkitab.)
Pandangan yang hampir sama juga dipaparkan oleh Pdt. Binsar A. Hutabarat, S.Th., M.C.S. ketika saya bertanya kepada beliau tentang pasangan hidup ini melalui chatting: Jodoh yang ditentukan Allah hanya terjadi pada peristiwa perjumpaan Adam dan Hawa. Dalam orang-orang percaya lainnya tidak ada. Memang dalam mencari pasangan hidup orang percaya harus mengikuti aturan Tuhan, dan jika telah mengikuti apa yang ditentukan Tuhan kita boleh percaya bahwa Tuhan membawa kita pada pasangan yang tepat. Karena itu dalam mencari pasangan hidup, manusia harus aktif namun dengan cara yang benar. Bebas, aktif, terbatas. Misalnya tidak boleh yang tidak seiman ini kriteria utama, jika tidak seiman, itu bukan pernikahan Kristen. Orang yang mengatakan Jodoh itu dari Tuhan juga melaksanakan usaha-usaha tersebut. Jadi dapat disimpulkan, perbedaannya hanya pada pengertian apa itu "jodoh". Karena orang yang meyakini jodoh dari Tuhan pun tidak akan berani menghapuskan usaha manusia untuk menemukan teman hidup.
Jika kita sudah mengerti bahwa jodoh itu dipimpin Tuhan dan dipertanggungjawabkan oleh manusia, apakah jika demikian, kita tidak perlu memiliki standar di dalam memilih lawan jenis bagi calon pasangan hidup kita? Tentu TIDAK! Kita boleh dan perlu menentukan standar di dalam memilih lawan jenis bagi calon pasangan hidup kita. Terlebih lagi, kita juga perlu mempertimbangkan saran dan petuah yang baik dari orangtua, teman, dll. Tetapi di atas semuanya, kita TIDAK boleh memberhalakan standar apa pun baik dari diri, orangtua, teman, dll. Kita harus menjadikan standar Allah sebagai standar yang paling penting dan mutlak di dalam memilih lawan jenis bagi calon pasangan hidup kita. Dengan kata lain, kita harus terbuka pada setiap gerakan pimpinan Roh Kudus yang kadang kala mendadak/tiba-tiba yang melampaui rencana dan pemikiran yang telah kita standarkan tersebut. Berarti, di dalam memilih calon pasangan hidup kita pun, ada dinamika hidup yang dipimpin Roh Kudus.
Jika Tuhan sudah memimpin kita dengan lawan jenis tertentu sebagai calon pasangan hidup kita, sudah seharusnya kita berani menyangkal diri dengan pilihan yang kita anggap baik (tetapi tidak baik dan tidak benar menurut kehendak Allah) dan mencoba mendekati dengan lawan jenis tersebut. Jangan mencoba-coba melawan kehendak-Nya, karena melawan kehendak-Nya berarti dosa. Pekalah terhadap seluruh pimpinan Roh Kudus di dalam setiap aspek kehidupan kita, termasuk memilih calon pasangan hidup.

APLIKASI DAN AKIBATNYA
Jika kita telah mempelajari dua konsep di atas, bagaimana kita mengaplikasikannya? Apa pula akibatnya? Setelah kita mengerti bahwa jodoh itu adalah dipimpin Allah dan tetap dipertanggungjawabkan manusia, maka ada beberapa aplikasi praktis yang harus kita (para cowok) perhatikan:

1. Bina Hubungan Pribadi Anda dengan Allah Melalui Firman, Doa, dan Pengalaman Pribadi
Konsep pertama mengaplikasi konsep terakhir ini adalah konsep membangun hubungan pribadi kita dengan Allah. Jika kita ingin mengerti kehendak dan rencana Allah di dalam hal jodoh, tidak ada jalan lain, kecuali kita harus secara teratur membangun hubungan pribadi dengan Allah. Tentu, motivasinya bukan supaya kita mengerti pimpinan Allah di dalam hal jodoh saja, tetapi hal ini kita harus lakukan setiap hari. Ketika kita terus membangun hubungan pribadi dengan Allah, kita akan semakin mengenal kehendak dan pimpinan-Nya yang terbaik. Membangun hubungan pribadi dengan Allah bisa dilakukan dengan tiga sarana, yaitu: Alkitab, doa, dan mengalami-Nya. Melalui Alkitab, kita mengerti apa yang dikehendaki-Nya, yaitu: kekudusan, kebenaran, kemurnian/ketulusan, cinta kasih, keadilan, kejujuran (bukan kemunafikan), dan kesungguhan hati. Melalui doa, kita makin mengenal Allah dan kehendak-Nya dengan terus bercakap-cakap dengan-Nya. Jangan pernah berpikir bahwa doa itu hanya satu arah komunikasi, yaitu kita yang terus berkata-kata dengan Allah. Di dalam doa, harus ada dua arah komunikasi, yaitu kita berbicara kepada Allah dan Allah berbicara dengan kita. Di dalam doa itulah, kita merasakan hadirat Allah yang nyata.
Dan terakhir, kita membina hubungan pribadi dengan Allah melalui pengalaman hidup sehari-hari. Ketika kita sudah memakai sarana pertama dan kedua, kita mulai mengalami-Nya di dalam hidup kita sehari-hari. Ini bukan sekadar teori, saya sudah mengalaminya langsung. Roh Kudus yang telah mewahyukan Alkitab adalah Roh Kudus yang sama telah mencerahkan hati dan pikiran saya tentang banyak hal, khususnya mengenai pengenalan akan Allah. Jangan biarkan iman Kristen hanya merupakan sekumpulan doktrin mati, tetapi hidupilah iman Kristen melalui Alkitab dan pengalaman kita bersama-Nya setiap hari. Ketika kita terus hidup mengalami-Nya sesuai Firman-Nya, hidup kita akan dipenuhi dengan limpahan sukacita yang tak terhingga.

2. Biarkanlah Alkitab dan Roh Kudus Memimpin Anda dalam Mencari Pasangan Hidup Melalui Hubungan yang Akrab Terlebih Dahulu
Setelah kita membina hubungan pribadi dengan Allah, kita harus dengan rendah hati, membiarkan apa yang telah kita lakukan itu memimpin hidup kita. Apa yang telah kita pelajari melalui Alkitab, doa, dan pengalaman hidup bersama Roh Kudus melalui pimpinan-Nya hendaklah memimpin hidup kita terutama ketika kita mencari dan menemukan pasangan hidup. Sebelum masuk ke dalam mencari dan menemukan pasangan hidup, biasakanlah memiliki kepekaan Roh di dalam melihat lawan jenis. Kepekaan Roh yang saya maksudkan bukanlah seperti yang diajarkan oleh mistisisme “Kristen,” tetapi kepekaan Roh di sini adalah kepekaan yang Roh Kudus berikan di dalam mengenal lawan jenis.

3. Libatkanlah Allah di dalam Segala Proses Pendekatan yang Kita Lakukan
Setelah kita (cowok) menjalin hubungan dengan lawan jenis (cewek), kita baru mulai mendekati lawan jenis yang kita sukai. Di dalam proses pendekatan ini, kembali, jangan pernah lupa untuk terus melibatkan Allah di dalam segala proses pendekatan kita. Kita tetap mendekati lawan jenis yang kita sukai. Kita harus mengupayakannya dengan berbagai cara yang etis, sopan, dan tidak mengganggu. Tetapi jangan pernah berpikir bahwa karena kita telah berusaha keras, maka ketika kita berhasil atau pun gagal, itu semua karena usaha kita sendiri. Jangan pernah memuji usaha kita sendiri di dalam segala sesuatu! Libatkanlah Allah! Berdoalah kepada Allah dan mintalah bijaksana-Nya untuk menentukan apakah dia adalah pasangan hidup kita sesuai kehendak-Nya. Bagaimana caranya? Belajarlah peka akan pimpinan Roh Kudus ketika sedang menjalin hubungan dekat dengan satu lawan jenis baik melalui komunikasi langsung (bertemu langsung) maupun komunikasi tidak langsung (melalui telepon, SMS, chatting, e-mail, dll). Roh Kudus akan memimpin (dalam arti: memberi bijaksana) kita menilai lawan jenis yang kita dekati ini, sampai sejauh mana lawan jenis ini mencintai Tuhan. Utamakan unsur cinta Tuhan! Jangan pernah menganggap bahwa karena lawan jenis yang kita dekati berada di gereja yang sama dengan kita membuktikan bahwa dia juga cinta Tuhan. Cinta Tuhan TIDAK diukur dari aktif pergi ke gereja. Cinta Tuhan diukur dari kerelaan, kerendahan, dan kemurnian hati di dalam mengasihi dan melayani-Nya. Mengasihi dan melayani-Nya ditandai dengan kemurnian, kesungguhan, dan kerendahan hati kita menempatkan Allah sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita dan juga melayani-Nya seumur hidup kita. Jangan pernah tertipu oleh fenomena! Orang yang mengasihi Allah adalah orang yang mencintai Firman-Nya yang tentunya adalah orang yang sudah membaca Alkitab dari Kejadian s/d Wahyu dan berusaha menghidupi Firman yang telah ia baca (1Yoh. 5:2).
Bagaimana jika di dalam proses pendekatan ini, lawan jenis yang kita dekati ternyata sudah memberikan tanda-tanda bahwa ia tidak menyukai kita? Kembalikanlah itu semua kepada Allah dan kehendak-Nya. Jika Roh Kudus benar-benar memantapkan kita dengan lawan jenis yang kita sukai tersebut, maka kita harus mencoba bersabar mendekati si cewek itu, meskipun pada awalnya si cewek kurang responsif. Jangan pernah berputus asa. Tetapi jika Roh Kudus tidak memantapkan kita, jangan sekali-kali memantap-mantapkan diri kita sendiri (self-confidence/percaya diri), lalu terus mencoba mengejar cewek yang tidak diinginkan Allah.

4. Bergumullah di Hadapan Allah Di Dalam Menerima Reaksi Lawan Jenis yang Kita Dekati
Jika kita (cowok) telah mendekati lawan jenis (cewek) yang kita sukai dengan cara-cara yang tepat, sopan, etis, dan tidak mengganggu, maka percayalah bahwa hasil dari pendekatan kita, apakah si lawan jenis itu menerima atau menolak cinta kita adalah kehendak Allah. Jika lawan jenis yang kita sukai ternyata sudah lebih dari satu kali menolak kita secara implisit (misalnya, ketika kita mengirim SMS atau menelpon dia, dia berkata bahwa dia sedang “sibuk”—bukan sibuk sungguhan), maka jangan pernah memaksa terus untuk mendekati dia. Mungkin saja, Allah tidak berkenan ketika kita mendekati lawan jenis yang kita anggap baik itu. Belajarlah peka akan hal itu dan percayalah bahwa kegagalan dan keberhasilan kita di dalam hasil setelah kita mendekati lawan jenis itu berada di dalam koridor pemeliharaan-Nya. Kalaupun lawan jenis yang kita dekati/sukai menolak cinta kita, percayalah Allah sudah dan sedang menyediakan bagi kita pasangan hidup yang lebih baik bagi kita, meskipun kadang-kadang tidak kita sukai secara fenomena. Tetapi apakah selalu berarti bahwa jawaban TIDAK dari si cewek menandakan bahwa Allah melarang kita berhubungan dengannya? TIDAK selalu. Di sini, kita harus peka. Jika kita yakin bahwa cewek yang kita pilih dan dekati ini adalah benar-benar dipimpin oleh Allah, maka kita terus berusaha mendekati dia meskipun dia sempat menolak cinta kita pertama kalinya. Lawan jenis yang telah Ia berikan kepada kita mungkin menolak pada kesempatan pertama, tetapi percayalah Roh Kudus akan membuka hatinya untuk menerima cinta kita, jika memang kita dan lawan jenis kita adalah pasangan yang dikehendaki-Nya.
Bagaimana jika lawan jenis kita menerima cinta kita? Bukankah ini suatu kecocokan? Apakah itu berarti Tuhan menyetujui hubungan kita dengan lawan jenis yang kita pilih? Mungkin ya, mungkin tidak. Gumulkan hal ini kembali di hadapan Tuhan, benarkah Allah menyukainya? Jika ya, teruskan hubungan kita dengan lawan jenis ini. Jika tidak, meskipun si cewek menerima cinta kita, taatlah kepada Tuhan dan pimpinan-Nya, jangan meneruskan hubungan sebelum kita menuai akibat yang tidak diinginkan.
Sebagai contoh nyata dari konsep ini adalah contoh yang saya ambil dari buku Rev. Joshua Harris yang berjudul “Saat Cowok Ketemu Cewek” (Boy Meets Girl). Di buku ini, Rev. Joshua menceritakan pengalaman hidupnya sendiri dalam mengaplikasikan konsep ini. Dulu, waktu bekerja di gereja, beliau sempat menaksir seorang cewek, teman kantor gerejanya yang sudah lahir baru (sebut saja inisialnya: A). Pada suatu hari Minggu, di gerejanya, ada kesaksian dari seorang cewek yang baru bertobat (sekarang menjadi istrinya Shannon). Pada waktu itu, beliau tidak memiliki perasaan apa-apa dengan cewek yang baru bertobat ini, karena menurut pemikiran beliau, seorang yang baru bertobat belum bisa menjadi pasangan hidup bagi dirinya. Beliau bisa berpikiran begitu karena beliau ingin mendekati cewek A, teman kantor gerejanya tersebut. Tetapi selang beberapa lama, akhirnya Rev. Joshua mengetahui bahwa cewek A ternyata sudah memiliki pacar. Lalu, Allah membawanya untuk lama-lama mengenal Shannon ini, mencoba mendekatinya, berpacaran, dan akhirnya beliau menikah.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa pasangan hidup BUKAN merupakan partisipasi kita 100% saja, tetapi juga merupakan partisipasi Allah di atas segalanya. Biarlah kita makin mengalami pimpinan Allah di dalam realitas mencari dan menemukan pasangan hidup sambil kita tetap berusaha sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan.
Semua hal di atas adalah hal yang dilakukan seorang cowok yang aktif, bagaimana dengan reaksi cewek yang didekati? Cewek Kristen seharusnya adalah cewek yang lebih taat kepada Tuhan dan pimpinan Roh Kudus ketimbang perasaan diri mereka sendiri yang bisa saja salah. Ada beberapa hal yang harus cewek Kristen pertimbangkan ketika didekati oleh cowok Kristen?
1. Berdoalah dan Minta Pimpinan Roh Kudus
Mayoritas cewek (atau mungkin bahkan semua) akan mengetahui bahwa jika ada seorang cowok yang mengirimkan SMS atau menelpon dirinya lebih dari satu kali secara teratur (misalnya: 1 minggu bisa 2-3x) itu berarti si cowok ada “hati” atau menaksir dirinya. Nah, beberapa (kebanyakan) cewek, apalagi banyak cewek postmodern (tidak semua) adalah cewek yang pragmatis, yang hendak memandang fenomena luar si cowok sebagai standar apakah si cewek juga suka atau tidak suka dengan si cowok. Jika si cewek suka dengan ketampanan si cowok, maka begitu si cowok mendekati dirinya, dia langsung meresponi, tetapi ketika si cewek ditaksir oleh cowok yang biasa-biasa, maka dia tidak meresponinya, bahkan menolak mentah-mentah. Cewek Kristen yang cinta Tuhan HARUS membuang semua unsur fenomena tersebut dan melihat esensinya. Tetapi hal ini TIDAK berarti cewek Kristen menerima semua cowok yang menaksirnya. Inti yang harus diperhatikan adalah bukan hal-hal fenomena, seperti, tampan, kaya, dll, tetapi hati. Untuk itulah, maka di titik pertama, saya mengatakan bahwa cewek yang didekati oleh seorang cowok harus berdoa meminta hikmat dan pimpinan Roh Kudus apakah cowok yang mendekatinya adalah cowok yang dikehendaki Allah atau tidak. Cewek Kristen sejati adalah cewek yang hatinya untuk Tuhan melihat segala sesuatu dari perspektif Allah, sehingga setiap keputusan yang dibuatnya bukan berdasarkan perasaan sesaat, tetapi berdasarkan kehendak dan rencana-Nya yang berdaulat.

2. Belajar Saling Mengenal (dan Dikenal)
Setelah berdoa dan meminta pimpinan Roh Kudus, cewek Kristen harus belajar saling mengenal dan dikenal. Artinya, cewek Kristen sejati adalah cewek yang hatinya terbuka, baik untuk mengenal cowok yang mendekatinya dan juga ia sendiri terbuka apa adanya tentang dirinya terhadap cowok yang mendekatinya itu. Di sini, kita melihat adanya hubungan saling mengenal (cowok mengenal cewek dan cewek mengenal cowok) yang dibangun bahkan sejak di dalam proses pendekatan. Saling mengenal adalah saling mengenal seluruh pribadi masing-masing, saling belajar, saling memberi masukan/nasihat, dll yang kesemuanya berdasarkan standar kebenaran Firman Tuhan. Jika di dalam proses pendekatan ini, banyak hal boleh terbuka, maka ketika berpacaran dan menikah kelak, perbedaan pola pikir, kebiasaan, dll bukan menjadi halangan yang berarti. Kecenderungan anak muda zaman sekarang adalah ketika mendekati lawan jenis, mereka tidak saling terbuka, akibatnya tidak heran, jika suatu saat mereka berpacaran dan menikah, mereka akan terkaget-kaget dengan kebiasaan lawan jenisnya yang berbeda dari apa yang sudah mereka ketahui pada waktu pendekatan.

3. Putuskan Segala Sesuatunya Berdasarkan Pimpinan Roh Kudus yang Jelas
Jika di dalam proses pendekatan tersebut, kalian mendapati karakter si cowok ada yang kurang beres, apa yang harus kalian lakukan? Menolaknya mentah-mentah? TIDAK! Adalah suatu keputusan yang bijaksana jika para cewek: Pertama, mengklarifikasi standar karakter tersebut, apakah dari standar Allah atau standar umum (atau bahkan standar kebiasaan keluarga kalian)? Jika memang karakter si cowok tetap berada di dalam koridor kebenaran Alkitab, tetapi agak asing bagi kita yang mungkin belum terbiasa, biasakan kalian belajar dari si cowok. Jika karakter si cowok kurang beres di dalam hal-hal sepele (misalnya, mudah marah untuk hal-hal yang tidak penting, dll), biasakan juga menerima kekurangan si cowok sambil berusaha mengoreksinya. Nah, si cowok harus dengan rela hati dikoreksi. Tetapi jika karakter si cowok benar-benar tidak beres di dalam hal-hal esensial, si cewek harus menegurnya. Tetapi jika si cowok menolak teguran itu pertama kalinya, mintalah pimpinan Roh Kudus apakah kalian harus tetap meneruskan hubungan dengan si cowok ini atau segera menyudahinya. Mengapa harus meminta pimpinan Roh Kudus? Bukankah kita bisa langsung memutuskan hubungan saja dengan si cowok? TIDAK BISA! Jangan mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat! Biasakan melibatkan Allah di dalam mengambil keputusan. Mungkin saja, si cowok pertama kalinya sungkan atau tidak mau menerima teguran dari si cewek, karena cowok tersebut gengsi. Adalah tugas si cewek membukakan pola pikir si cowok untuk menerima kekurangannya sambil mengoreksinya dengan ketulusan dan kemurnian berdasarkan Firman Tuhan. Dan juga, si cewek pun harus berani rela dikoreksi jika si cowok mengoreksi dirinya. Jika si cowok ini merupakan pasangan hidup kalian kelak, maka Roh Kudus akan membuka hati dan pikiran si cowok ini pelan-pelan, sehingga si cowok dan kalian saling bertumbuh di dalam Kebenaran Firman.
Dari prinsip di atas, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan di dalam proses pendekatan, baik cewek maupun cowok harus saling menghormati perbedaan yang fenomenal (sekunder) dan tidak saling memaksa. Perbedaan fenomenal/sekunder ini biasanya meliputi perbedaan cara berpikir, karakter, kerohanian, dll. Jika pada waktu pendekatan, cowok dan cewek saling menghormati perbedaan sekunder ini, maka mereka tidak akan menghadapi percekcokan kelak pada waktu berpacaran dan menikah. Percekcokan yang tidak berarti sering kali terjadi pada pasangan suami istri, misalnya perbedaan cara menggosok gigi, makan, kombinasi warna pakaian (baju dan celana/rok), dll. Mengapa bisa demikian? Karena dari tahap pendekatan, mereka tidak bisa saling menghormati satu sama lain, yang sering terjadi adalah si cewek yang kebanyakan mengatur si cowok bahkan untuk hal-hal sepele! Cewek Kristen harus bertobat dari kebiasaan buruk ini, belajarlah untuk tidak terlalu cerewet untuk hal-hal yang TIDAK PENTING!
Nah, setelah tahap pengenalan, maka si cowok pasti akan “menembak” si cewek yang didekatinya suatu saat. Sekarang, keputusan berada di tangan cewek. Adalah suatu hal yang bijaksana jika si cewek memberikan keputusan tersebut dengan bersandar pada hikmat dan pimpinan Roh Kudus, yaitu: menerima atau menolak si cowok yang mendekati kalian. Atau dengan kata lain, berdoalah meminta hikmat-Nya ketika hendak memberikan keputusan pada saat si cowok “menembak” kalian. Jika semuanya dilakukan sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dan prinsip Alkitab, maka tentunya cewek Kristen tidak lagi memakai standar-standar yang mereka bangun sendiri (misalnya, cowok ini “antik”, padahal antik yang kalian mengerti adalah antik dalam hal-hal sepele, tetapi kalian tidak mau mengerti mengapa dia antik dan mencoba mengubah keantikannya).
Lalu, apa akibat dari konsep terakhir ini? Karena kita percaya bahwa jodoh itu dipimpin Tuhan dan tetap dipertanggungjawabkan oleh manusia, kita tidak perlu kuatir bahwa kita akan salah jalan. Mengapa? Karena kita percaya bahwa Ia selalu memberikan kepada anak-anak-Nya pilihan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya, meskipun itu kelihatan “tidak baik” menurut kita. Iman inilah yang mengakibatkan kita tetap berusaha mencari dan mendekati lawan jenis sambil tetap berserah kepada Allah dan pimpinan-Nya. Ia memberikan kita bijaksana di dalam memilih pasangan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip firman-Nya, di sisi lain Ia menuntut kita berserah total akan pimpinan Allah di dalam pemilihan pasangan hidup itu. Itulah tandanya kita mengerjakan apa yang menjadi bagian kita dan menyerahkan apa pun yang melampaui bagian kita kepada Allah yang Berdaulat mutlak. Dan lihatlah bagaimana Allah bertindak dengan luar biasa dahsyat bagi kehidupan pernikahan kita kelak di mana nama Tuhan dipermuliakan selama-lamanya. Sudahkah Anda mengalaminya?

KESIMPULAN DAN TANTANGAN BAGI KITA
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyerahkan hidup kita termasuk masalah pasangan hidup kepada Allah yang telah mencipta, memelihara, dan memberikan kepada kita pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya? Sekali lagi, Ia telah memberikan pasangan hidup yang sepadan kepada kita, namun Ia memimpin kita dengan memberi hikmat dan bijaksana-Nya kepada kita di dalam mencari dan menemukan pasangan hidup itu. Kesemuanya itu bertujuan hanya untuk kemuliaan Allah saja. Amin. Soli Deo Gloria. 

Ditulis oleh: Denny Teguh Sutandio
Diedit seperlunya oleh: Ev. Rinto F. Sirait